BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam hidup kita sering mengalamai hal-hal yang mungkin pernah kita alami. Dari
kejadian yang pernah kita alami tersebut kadang kita bisa memberikan pandangan
kepada orang lain yang sedang mengalami kejadian seperti kita dulu.
Bagi mereka yang lebih kreatif kejadian yang pernah dialaminya dimasa lalu atau
bahkan kejadian yang dialami orang lain dijadikan ramalan untuk masa depan
seseorang yang dipandangnya menyerupai seseorang tadi. Kadang kita dalam hidup
ini perlu yakin adanya kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dikemudian
hari ketika kita melakukan suatu kegiatan. Hal ini diperlukan untuk menjadikan
perhatian dan pertimbangan dalam kita melankah yang kita ambil dari
kejadian-kejadian sebelumnya.
Sebagai gambaran yang realistis adalah ketika ada teman kita yang terjatuh
ketika melewati jembatan A, maka kita sebagai orang yang ingin melewati
jembatan A mesti perlu dipertimbangkan tentang kejadian sebelumnya. Bisa jadi
kita akan mengalami seperti orang-orang sebelumnya ketika melewati jambatan
tersebut.
Dalam makalah ini, penulis ingin menguak tentang kemungkinan-kemungkinan dalam
hidup yang didasarkan pada kejadian-kejadian dimasa lalu. Makalah yang hendak
penulis buat ini adalah mengenai Probabilitas atau kemungkinan.
1.2
Rumusan Masalah
1) Apa pengertian dari probabilitas?
2) Apa manfaat probabilitas dalam penelitian)
3) Bagaimana cara menghitung probabilitas atau peluang suatu
kejadian?
1.3
Tujuan Pembelajaran
1) Untuk mengetahui pengertian probabilitas
2) Untuk mengetahui manfaat probabilitas dalam penelitian
3) Untuk mengetahui cara menghitung probabilitas atau
peluang suatu kejadian
BAB II
PENDAHULUAN
2.1 Pengertian Probabilitas
Dalam kehidupan sehari-hari kita
sering dihadapkan dengan beberapa pilihan yang harus kita tentukan memilih yang
mana. Biasanya kita dihadapkan dengan kemungkinan-kemungkinan suatu kejadian
yang mungkin terjadi dan kita harus pintar-pintar mengambil sikap jika
menemukan keadaan seperti ini, misalkan saja pada saat kita ingin bepergian,
kita melihat langit terlihat mendung. Dalam keadaaan ini kita dihadapkan antara
2 permasalahan, yaitu kemungkinan terjadinya hujan serta kemungkinan langit
hanya mendung saja dan tidak akan turunnya hujan. Statistic yang membantu
permasalahan dalam hal ini adalah probabilitas.
Probabilitas didifinisikan
sebagai peluang atau kemungkinan suatu kejadian, suatu ukuran
tentang kemungkinan atau derajat ketidakpastian suatu peristiwa (event) yang
akan terjadi di masa mendatang. Rentangan
probabilitas antara 0 sampai dengan 1. Jika kita mengatakan probabilitas sebuah
peristiwa adalah 0, maka peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi. Dan jika
kita mengatakan bahwa probabilitas sebuah peristiwa adalah 1 maka peristiwa
tersebut pasti terjadi. Serta
jumlah antara peluang suatu kejadian yang mungkin terjadi dan peluang suatu
kejadian yang mungkin tidak terjadi adalah satu, jika kejadian tersebut hanya
memiliki 2 kemungkinan kejadian yang mungkin akan terjadi.
Contoh : Ketika doni ingin pergi kerumah temannya, dia
melihat langit dalam keadaan mendung, awan berubah warna menjadi gelap, angin
lebih kencang dari biasanya seta sinar matahari tidak seterang biasanya.
Bagaimanakah tindakan Doni sebaiknya?
Ketika Doni melihat keadaan seperti itu, maka sejenak dia
berpikir untuk membatalkan niatnya pergi kerumah temannya. Ini dikarenakan dia
beripotesis bahwa sebentar lagi akan turunya hujan dan kecil kemungkinan bahwa
hari ini akan tidak hujan, mengingat gejala-gejala alam yang mulai nampak.
Probabilitas dalam cerita tadi adalah peluang kemungkinan
turunnya hujan dan peluang tidak turunnya hujan.
2.2 Manfaat Probabilitas Dalam Penelitian
Manfaat probabilitas dalam kehidupan
sehari-hari adalah membantu kita dalam mengambil suatu keputusan, serta
meramalkan kejadian yang mungkin terjadi. Jika kita tinjau pada saat kita
melakukan penelitian, probabilitas memiliki beberapa fungsi antara lain;
· Membantu
peneliti dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat. Pengambilan keputusan
yang lebih tepat dimagsudkan tidak ada keputusan yang sudah pasti karena
kehidupan mendatang tidak ada yang pasti kita ketahui dari sekarang, karena informasi yang didapat tidaklah sempurna.
· Dengan
teori probabilitas kita dapat menarik kesimpulan secara tepat atas hipotesis yang terkait tentang
karakteristik populasi.
Menarik kesimpulan secara tepat atas hipotesis (perkiraan
sementara yang belum teruji kebenarannya) yang terkait tentang karakteristik
populasi pada situssi ini kita hanya mengambil atau menarik kesimpulan dari
hipotesis bukan berarti kejadian yang akan dating kita sudah ketehaui apa yang
akan tertjadi.
· Mengukur
derajat ketidakpastian dari analisis sampel hasil penelitian dari
suatu populasi.
Contoh:
Ketika diadakannya sensus penduduk 2000, pemerintah
mendapatkan data perbandingan antara jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki
berbanding jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan adalah memiliki
perbandingan 5:6, sedangkan hasil sensus pada tahun 2010 menunjukan hasil
perbandingan jumlah penduduk berjenis kelamin pria berbanding jumlah penduduk
berjenis kelamin wanita adalah 5:7. Maka pemerintah dapat mengambil keputusan
bahwa setiap tahunnya dari tahun 2000 hingga 2010 jumlah wanita berkembang
lebih pesat daripada jumlah penduduk pria.
2.3 Menghitung Probabilitas atau Peluang Suatu
Kejadian
2.3.1 Probabilitas Suatu Peristiwa
Kemungkinan
terjadinya suatu peristiwa diantara seluruh peristiwa yang mungkin terjadi. Probabilitas kemunculan suatu peristiwa atau kejadian
biasa disingkat dengan huruf p dan dinyatakan dalam persen atau proporsi.
-
Pendekatan
Klasik
Perhitungan
probabilitas secara klasik didasarkan pada asusmsi bahwa seluruh hasil dari
suatu eksperimen mempunyai kemungkinan (peluang) yang sama. Pada pendekatan
ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu seluruh kejadian yang akan muncul,
yang dalam prakteknya sulit untuk dilaksanakan. Untuk mempermudah pemahaman,
diberikan gambaran sebagai berikut:
Perhatikan suatu
kejadian A yang
dapat terjadi sebanyak x cara dari
seluruh n cara; misalnya ada n barang, x rusak, (n-x) tidak
rusak. Kalau
kita mengambil suatu barang secara acak (random),
lalu ditanyakan berpa probabilitasnya bahwa barang yang diambil tersebut rusak?
Maksudnya berapa P(A)?
Ada x barang rusak,
ada x cara untuk memperoleh barang yang rusak dari seluruh barang sebanyak n, A
= barang yang rusak, merupakan suatu kejadian atau event.
(a)

(b)

Jika x = 0, maka
P(A) =
, tidak afa barang rusak. Jika x=n, maka P(A) =
, jika semua barang rusak. Jadi, 0 ≤ P(A) ≤ 1, A sering
disebut Sukses dan
sering disebut Gagal.
Artinya, probabilitas terjadinya A, yaitu P(A), nilainya paling kecil 0 dan
paling besar 1.
CONTOH :
Kepala pabrik
mengatakan bahwa dari 100 barang produksinya, ada 25 yang rusak. Kalau barang
dibungkus rapi, kemudian seorang pembeli mengambil satu barang secara acak.
Berapakah probabilitasnya bahwa barang tersebut rusak?
Penyelesaian :
Dari soal, n = 100
dan x = 25. Dengan demikian
2.3.2 Kejadian
Saling Meniadakan (mutually exclusive)
Aturan
penjumlahan yang ditetapkan untuk kejadian yang saling meniadakan disebut
dengan aturan penjumlahan khusus. Kejadian saling meniadakan (mutually
exclusive event) adalah kejadian dimana jika sebuah kejadian terjadi, maka
kejadian yang kedua adalah kejadian yang saling meniadakan. Jika A telah
terjadi , maka kejadian B tidak akan terjadi. Sebagai contoh, dalam pelemparan
sebuah dadu, munculnya mata dadu 2 dan 3 tidak bisa terjadi secara bersamaan,
sehingga munculnya mata dadu 2 akan meniadakan munculnya mata dadu lain.
Jika dua
kejadian A dan B saling meniadakan (saling lepas), aturan penjumlahan
menyatakan bahwa probabilitas terjadinya A atau B sama dengan penjumlahan dari
masing-masing nilai probabilitasnya dan dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut:
P(A
atau B) = P(A
B) = P(A) + P(B)
CONTOH :
Sebuah dadu dilemparkan ke atas, peristiwanya adalah
A =
peristiwa mata dadu 4 muncul
B =
peristiwa mata dadu lebih kecil dari 3 muncul
Tentukan
probabilitas Mata dadu 4 atau lebih kecil dari 3 muncul!
Penyelesaian :
P(A) = 
P(B) 
P(A
B) = P(A) + P(B)
= 
2.3.3 Kejadian
Tidak Saling Meniadakan (non mutually
exclusive)
Dua
peristiwa atau lebih disebut peristiwa tidak saling meniadakan apabila
kedua peristiwa atau lebih tersebut dapat terjadi pada saat yang bersamaan. Adakalanya hasil dari suatu eksperimen tidak bersifat
saling meniadakan. Secara ringkas, aturan umum penjumlahan untuk
kejadian-kejadian yang tidak saling meniadakan pada dua kejadian A dan B dapat
ditulis:
P(A
atau B) = P(A) + P(B) – P(A dan B)
Atau
P(A
B) = P(A) + P(B) – P(A
B)
*catatan : P(A atau B) atau P(A
B) dapat dinyatakan dalam bentuk kalimat “peluang bahwa A
mungkin terjadi dan B mungkin terjadi”. Kalimat ini juga mencakup “kemungkinan
bahwa A dan B terjadi” dalam hal kejadian yang tidak saling meniadakan.
Contoh
:
Dalam
satu set kartu terdapat gambar raja (king) sebanyak 4 buah, dan gambar
hati (Heart) sebanyak 13 buah. Karena di antara 4 kartu raja juga ada
yang bergambar Hati, maka kejadian terpilihnya kartu bergambar raja atau Heart
merupakan kejadian yang bersifat “bukan saling meniadakan”.
Peluang/Probabilitas masing-masing kejadiannya adalah…
Penyelesaian
:
Kartu Raja = P(A) =
Kartu Hati = P(B) = 
Raja bergambar hati = P(A
B) = 
P(A
B) = P(A) + P(B) – P(A
B)
2.3.4 Kejadian
Bebas (Independent Event)
Dua
kejadian atau lebih dikatakan merupakan kejadian bebas apabila terjadinya
kejadian tersebut tidak saling mempengaruhi. Dua kejadian A dan B dikatakan bebas. Apabila kejadian A tidak
mempengaruhi B atau sebaliknya.
P(A
∩ B) = P(A) x P(B)
= P(B) x P(A)
Contoh
:
Dari
100 barang yang diperiksa terdapat 20 barang yang rusak. Berapa probabilitas
untuk mendapatkan barang yang bagus (baik) jika dilakukan dua kali pengambilan
barang tersebut (barang yang telah diambil dikembalikan lagi)
Penyelesaian
:
P (barang baik) = 
(barang rusak) = 
A = pengambilan pertama barang baik
B = pengambilan kedua barang baik
P(A ∩ B) =
P(X) x P(Y)
=
0,8 x 0,8 = 0,64
2.3.5 Kejadian
Tak Bebas (Bersyarat / dependent event)
Dua peristiwa dikatakan dependen (bersyarat) adalah
jika terjadinya peristiwa yang satu akan mempengaruhi atau merupakan syarat
terjadinya peristiwa yang lain.
Untuk menghitung
probabilitas bersyarat, seolah-olah kita sudah mengetahui P(A ∩ B),
P(A) dan P(B). Berdasarkan apa yang kita ketahui tersebut , kita akan
menghitung P(A/B) atau P(B/A). Dalan prakteknya, sering kali sukar untuk
menghitung P(A ∩ B). Untuk menghitung P(A ∩ B), rumus yang
digunakan sering disebut Aturan Umum dari perkalian probabilitas, sebagai
berikut:
P(A ∩ B) = P(A) x P(B/A)
Rumus tersebut yang
berarti bahwa P(A ∩ B) = probabilitas bahwa A dan B terjadi secara simultan,
sebetulnya merupakan hasil kali dari probabilitas dua kejadian.
P(A ∩ B) = P(A) x P(B/A)
P(A) = probabilitas
bahwa A terjadi.
P(B/A) =
probabilitas B terjadi dengan syarat A terjadi.
Contoh :
Kita mengambil secara acak 2 kartu berturut-turut
dari suatu set kartu bridge. Berapa probabilitasnya bahwa pengambilan kartu
pertama berupa kartu King, dan yang kedua juga kartu King? (Hasil pengambilan
pertama tidak di kembalikan)
Penyelesaian :
S = 52 kartu
A
= pengambilan pertama kartu king (a=4)
B|A = pengambilan kedua juga kartu king dengan syarat bahwa
pengambilan pertama kartu King (b=3, N=51)
P(A) =
, P(B) = 
P(A ∩ B) =
P(A) x P(B/A)
= 
2.3.6 Probabilitas Marginal
Di dalam
praktek, kita sering kali menjumpai suatu kejadian yang terjadi bersamaan
dengan kejadian lainnya, di mana kejadian lainnya tersebut mempengaruhi
terjadinya kejadian yang pertama.
P(R)
= ∑ P (Si) P (R/Si)
Contoh
:
Di
sebuah Universitas mempunyai mahasiswa sebanyak 1.000 orang yang terdiri dari 4
Fakultas, yaitu FE=400 mahasiswa, FH=200 mahasiswa, FT=150 mahasiswa, dan
FP=250 mahasiswa.
Dari
mahasiswa tersebut ada yang menjadi anggota Menwa. Diketahui probabilitas
anggota menwa dari FE = 0,50 ; FH = 0,25 ; FT = 0,167 ; FP = 0,60
Jika
suatu saat kita bertemu dengan salah seorang mahasiswa, berapa probabilitas
bahwa mahasiswa tersebut seorang anggota Menwa?
Penyelesaian
:

Contoh 2 :
Di sebuah Universitas mempunyai
mahasiswa sebanyak 1.000 orang yang terdiri dari 4 Fakultas, yaitu FE=400
mahasiswa, FH=200 mahasiswa, FT=150 mahasiswa, dan FP=250 mahasiswa.
Dari mahasiswa tersebut ada yang menjadi
anggota Menwa. Dari FE=200 orang, FH=50 orang, FT=25 orang, dan FP=l50 orang.
Jika suatu saat kita bertemu dengan
salah seorang mahasiswa, berapa probabilitas bahwa mahasiswa tersebut seorang
anggota Menwa?
Penyelesaian
:

2.3.7 Peluang
Kejadian Majemuk
Terbagi
menjadi 3 yaitu :
-
Gabungan dari 2 Kejadian
RUMUS : P(A È B) = P(A) + P(B) – P(A Ç B)
-
Kejadian Saling Lepas
Terjadi
apabila kejadian A dan B tidak mempunyai irisan
Sehingga
P(A Ç B) = 0
RUMUS : P(A È B) = P(A) + P(B)
-
Kejadian Saling Bebas
Terjadi
apabila kejadian satu tidak dipengaruhi oleh kejdian lainnya
RUMUS : P(A ∩ B) = P(A) x P(B)
2.3.8 Teorima
Bayes
Bila (
A1, A2…., An) merupakan partisi atau sekatan dari ruang sampel S masing-masing
mempunyai peluang terjasdinya > 0 , dan bila terjadi sembarang peristiwa B
yang mempunyai peluang terjadinya tidak sama dengan 0, maka untuk sembarang
bilangan bulat k dimana 1≤k≤n. teorima bayes dari seluruh kemingkinan kejadian
di atas dapat dirumuskan :
P(Ak)P(B/Ak)
P(Ak/B)
= P(A1)P(B / A)+P( B / A2 …+ P (An)P(B / An)
Catatan
:
A1 , A2
,….An masing-masing disebut hipotesis , P(Ak) merupakan peluang a priori
terjadinya hipotisis Ak sedangkan P(Ak / B) merupakan peluang a
posteriori terjadinya hipotesis Ak setelah peristiwa B terjadi lebih dulu.
Sebuah
perkantoran biasanya membutuhkan tenaga listrik yang cukup agar semua aktifitas
pekerjaannya terjamin dari adanya pemutusan aliran listrik.Terdapat dua sumber
listrik yg digunakan PLN dan Generator. Bila listrik PLN padam maka secara
otomatis generator akan menyala dan memberikan aliran listrik untuk seluruh
perkantoran. Masalah yang selama ini menganggu adalah ketidakstabilan
arus(voltage)listrik, baik dari PLN maupun generaor, yang akan merusak
peralatan listrik.Selama beberapa tahun terakhir, diketahui bahwa probabilitas
terjadinya listrik padam adalah 0.1, dgn kata lain peluang bahwa perkantoran
itu menggunakan listrik PLN adalah 0.9 dan peluang menggunakan generatoradalah
0.1.Peluang terjadi ketidakstabilan pada arus listrik PLN maupun generator
masing-masing 0.2 dan 0.3.
Permasalahan
ini dapat diilustrasikan sbb:
E
: Peristiwa listrik PLN digunakan
Ec
: Peristiwa listrik Generator digunakan
A
: Peristiwa terjadinya ketidak stabilan arus
Peristiwa
A dapat ditulis sebagai gabungan dua kejadian yang saling lepas dan jadi :
Dengan
menggunakan probabilitas bersyarat maka :
Diketahui:
P(E)=0.9
P(E’)=0.1
P(A|E)=0.2
P(A|E’)=0/3
Sehingga :
P(A)=P(E).P(A|E)+P(E’).P(A|E’)
=(0.9).(0.2)+(0.2).(0.3)
=0.21
Kembali
pada permasalahan diatas, bila suatu saat diketahui terjadi ketidakstabilan
arus listrik, maka berapakah probabilitas saat itu aliran listrik berasal dari
generator? Dengan menggunakan rumus probalilitas bersyarat diperoleh:
P(E’|A)
=P(E’∩A)/P(A)
=P(E’).P(A|E’)/P(A)
=0.03/0.21=0/143
Peristiwa
B1,B2,….,Bk merupakan suatu sekatan(partisi) dari ruang sampel S dengan P(Bi)≠0
untuk i=1,2,…,k maka setiap peristiwa A anggota S berlaku:
Berikut
k=3
Digunakan
bila ingin diketahui probabilitas P(B1|A),P(B2|A)….,P(Bk|A) dengan rumus
sebagai berikut :
Suatu
generator telekomunikasi nirkabel mempunyai 3 pilihan tempat untuk membangun
pemancar sinyal yaitu didaerah tengah kota, daerah kaki bukit dikota itu
dan derah tepi pantai, dengan masing-masing mempunyai peluang 0.2; 0.3 dan 0.5.
Bila pemancar dibangun ditengah kota, peluang terjadi ganguan sinyal adalah
0.05. Bila pemancar dibangun dikaki bukit, peluang terjadinya ganguan sinyal
adalah 0.06.Bila pemancar dibangun ditepi pantai, pelaung ganguan sinyal adalah
0.08.
A.
Berapakah peluang terjadinya ganguan sinyal?
B. Bila
diketahui telah terjadinya gangguan pada sinyak pada sinyal, berapa peluang
bahwa operator tsb ternyata telah membangun pemancar di tepi pantai?
Misal:
A
= Terjadi ganguan sinyal
B1
= Pemancar dibangun di tengah kota
B2
= —————————-di kaki bukit
B3
= —————————-di tepi pantai
Maka :
A).
Peluang terjadinya ganguan sinyal
P(A)=P(B1)P(A|B1)+P(B2)P(A|B2)+P(B3)P(A|B3)
=
(0,2).(0.05)+(0.3)(0.06)+(0.5)(0.08)=0.001+0.018+0.04=0.068
B).Diketahui
telah terjadi ganguan pd sinyal, maka peluang bahwa operator ternyata telah
membangun pemancar di tepi pantai:
Dapat
dinyatakan dgn: “Peluang bersyarat bahwa operator membangun pemancar di tepi
pantai bila diketahui telah terjadi ganguan sinyal”:
2.3.9 Harapan
Mathematics
Peristiwa-peristiwa A1 , A2 , …, An merupakan peristiwa-peristiwa
yang berdiri sendiri. Saling mengasingkan, dan lengkap terbatas jumlah
berturut-turut mempunyain peluang terjadinya sebesar p1 , p2 … pn . bila
seseorang mengharap kan sejumlah uang. Sebesar x1 untuk terjadi peristiwa A1 ,
sebesar x2 untuk terjadinya keuntungan yang diharapkan atau harapan matematis
orang tersebut dari terjadinya seluruh peristiwa-peristiwa tersebut diatas
merupakn jumlah hasil kali p dan x yang secara matematis dapat dinyatakan
sebagai berikut :
ME
= px
Catatan
Pengertian
harapan matematis sering diidentikan dengan nilai harapan atau expected value
terjadinya variable tertentu dan sering juga diindentikan dengan rata-rata
sehingga dapat dinyatakan sebagai berikut :
ME = E
= µ
Pengertian
harapan matenmatis sering juga dihubung-hubungkan dengan permainan atau usaha.
Suatu permainamn atau usaha dikatakan menguntungkan bila mempunyai ME>0 atau
pasitif, merugikan apabila mempunyai ME<0 atau negative dan tidak untung
atau tidak rugi atau jujur atau “fair” bila menpunyai ME = 0
Jika X1,
X2, X3, …, Xn merupakan peubah acak
diskrit dengan fungsi probabilitas p(x) ³ 0, atau X1,
X2, …, Xn merupakan peubah acak kontinu dengan fungsi
kepekatan probabilitas f(x) ³ 0, maka
nilai harapan dari peubah acak tersebut dapat ditulis sebagai berikut
Sifat-sifat untuk nilai harapan :
-
Jika a konstanta, maka
Misalnya
x
|
0
|
1
|
2
|
3
|
P(x)
|
1/3
|
½
|
0
|
1/6
|
Nilai harapan untuk fungsi g(x) = (x-1)2 adalah
Penyelesaian
:
Contoh :
Jika X merupakan peubah acak kon-tinu dengan fungsi kepekatan peluang
f(x) = 1/3 x2, -1 < x < 2
=0 untuk selainnya,
Jika X merupakan peubah acak kon-tinu dengan fungsi kepekatan peluang
f(x) = 1/3 x2, -1 < x < 2
=0 untuk selainnya,
1.Nilai harapan untuk fungsi g(x) = 2x – 1 adalah
![]() |
2. Nilai harapan
untuk fungsi h(x) = 3x + 2 adalah
Dalil (diskrit):
Misalkan X suatu peubah acak diskrit dengan fungsi probabilitas p(x),
maka nilai harapan dari suatu fungsi
g(x) adalah
Contoh :Misalkan X merupakan peubah acak diskrit dengan ruang sampel A = {x; x = 0, 1, 2, 3, 4} dan misalkan P(A) = åA p(x), di mana
Dalil (kontinu) :
Misalkan X suatu peubah acak kontinu
dengan fungsi kepekatan
probabilitas f(x), maka nilai harapan dari suatu fungsi g(x) adalah
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari jabaran diatas dapat kita simpulkan bahwa:
1. Probabilitas adalah kemungkinan yang terjadi berdasarkan
keadaan yang telah ada.
2. Probabilitas ada dua macam, yaitu: Probabilitas a priori dan
Probabilitas relative frekuensi.
3. tindakan yang kita ambil berdasarkan resiko yang mungkin
timbul dari pilihan kita berkaitan dengan probabilitas yang ada
3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah gunakanlah
probabilitas ini untuk keperluan yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri
atau orang banyak. Jangan sekali-kali menjadi musyrik dengan pengetahuan
tentang probabilitas ini. Semua yang akan terjadi atau yang telah terjadi
yakinlah itu semua telahdirencanakan oleh Allah SWT.
Demikian makalah ini penulis sampaikan, disini penulis menyadari sepenuh hati,
bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal itu
dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis. Saran dan kritik yang membangun
sangat penulis tunggu guna memperbaiki pembuatan makalah dikemudian hari.
Demikian dan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
J. Suprapto (2008). Statistika: Teori dan Aplikasi, Edisi 7.
Jakarta: Penerbit Erlangga.

No comments:
Post a Comment