Tuesday, April 28, 2015

Contoh Soal IPS untuk SMK beserta jawaban

1
Ditinjau dari asal usulnya, interaksi sosial berasal dari bahasa inggris ...
a. Social communication
b. Inter action
c. Social interactive
d. Inter communication
e. Social interaction
2
Yang bukan termasuk tujuan proses sosialisasi adalah untuk ...
a. Mengenal dan mengetahui lingkungan sosial budaya
b. Mengenal nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat
c. Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif
d. Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik
e. Menguasai suatu kelompok masyarakat
3
Didalam proses sosialisasi terdapat tahapan – tahapan diantaranya “game stage”. Apakah yang dimaksud dengan game stage tersebut ...
a. Tahap persiapan
b. Tahap meniru
c. Tahap siap melakukan tindakan
d. Tahap penerimaan norma kolektif
e. Tahap penolakan norma-norma
4
Perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak disebut ...
a. Kriminalitas
b. Perlawanan anak
c. Kemajuan anak
d. Kenakalan umum
e. Kenakalan anak atau remaja

5
Dibawah ini yang termasuk tujuan dibentuknya VOC adalah untuk  ...
a. Untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan penting
b. memonopoli perdagangan rempah-rempah
c. menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia
d. menghindari persaingan tidak sehat antara pedagang-pedagang Belanda sendiri
e. menyaingi kongsi dagang Inggris yang sudah ada di India
6
Yang termasuk kesepakatan Inggris-Belanda dalam konvensi London adalah  ...
a. Belanda memeperoleh kembali daerah jajahannya
b. Daerah jajahannya dulu yang direbut oleh Inggris yaitu Indonesia harus kembali diserahkan kepada Belanda
c. Setiap penduduk harus menyerahkan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman perdagangan
d. Belanda harus menebus tawanannya
e. Belanda harus meninggalkan banten
7
Apakah yang mendasari rakyat Maluku untuk melakukan perlawanan kepada VOC ?
a. Karena kegelisahan dan ketakutan rakyat maluku penderitaan akan terulang kembali
b. Karena rasa senang terhadap perang
c. Karena Belanda merampas hasil rempah-rempah rakyat
d. Karena Belanda ingin menyebarkan agama katholik
e. Karena rakyat ingin merampas kekayaan orang Belanda

8. Di bawah ini yang bukan termasuk hasil Kongres Pemuda kedua adalah ...
a. Menerima lagu “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan
b. Menerima “sang merah putih” sebagai bendera negara Indonesia
c. Melebur semua organisasi pemuda menjadi satu wadah
d. Diikrarkannya “sumpah pemuda” oleh semua wakil pemuda yang hadir
e. Pemuda bersatu untuk berperang
9. Kebutuhan manusia secara umum di bagi menjadi lima, salah satunya adalah kebutuhan sosial, apakah yang dimaksud dengan kebutuhan sosial?
a. Kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan hidup bersama orang lain
b. Kebutuhan yang menyangkut sandang, pangan, papan
c. Kebutuhan manusia untuk dihargai dan menghargai orang lain
d. Kebutuhan manusia untuk hidup dengan aman dan nyaman
e. Kebutuhan manusia untuk mencapai prestasi yang memuaskan
10. Yang termasuk contoh benda substitusi adalah ...
a. Ember diganti dengan piring
b. Bolpoin diganti dengan pensil
c. Cangkul diganti dengan garpu
d. Tas diganti dengan tas kresek
e. Kertas diganti dengan kayu
11. Berikut ini yang bukan termasuk faktor-faktor penyebab kelangkaan adalah ...
a. Terbatasnya sumberdaya alam yang tersedia
b. Terbatasnya kemampuan manusia untuk mengolah SDA
c. Sifat manusia yang tidak cepat puas
d. Perkembangan jumlah penduduk
e. Mengorbankan kepentingan lain
12. Permasalahan ekonomi modern yang pertama adalah “what”, apakah yang dimaksud dengan kata “what” ?
a. Bagaimana cara memproduksi
b. Bagaimana mengalokasikan biaya produksi
c. Bagaimana mengalokasikan sumber daya yang tersedia secara efisien
d. Untuk siapa barang itu diproduksi
e. Apa yang harus diproduksi
13. Ciri-ciri yang paling menonjol dalam sistem ekonomi campuran adalah ...
a. Tidak perlu bantuan dari luar negeri
b. Peranan luar negeri tidak penting
c. Keberadaan swasta sangat diakui sebagai partner pemerintah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat
d. Kehidupan masyarakat bersifat agraris
e. Usaha swasta bersifat menunjang pemerintah
14. Yang bukan termasuk tujuan produksi adalah ...
a. Memenuhi kebutuhan konsumen
b. Untuk mendapatkan keuntungan usaha
c. Meningkatkan modal usaha
d. Mempertahankan kelanjutan usaha
e. Mempercepat hasil produksi sampai di tangan konsumen


Monday, April 27, 2015

STRUKTUR SOSIAL

STRUKTUR SOSIAL
I.       STRUKTUR SOSIAL
A.  Pengertian Struktur Sosial
Ketika kita berbicara tentang struktur sosial, maka sesungguhnya kita berbicara mengenai sesuatu yang saling bergantung dan membentuk suatu pola tertentu yang terdiri atas pola perilaku individu, kelompok, institusi, maupun masyarakat secara luas.
Struktur sosial adalah susunan masyarakat secara hierarkis, baik vertikal maupun horizontal yang bersifat dinamis dan selalu berubah seiring dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Struktur sosial secara vertikal berbentuk stratifikasi sosial, sedangkan secara horizontal berbentuk diferensiasi sosial.
Definisi struktur sosial menurut pendapat para ahli antara lain:
1.    Gerhard Lenski
Stuktur sosial adalah struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan panjang yang menandai sejarah.
2.    Tarcott Parsons
Struktur sosial adalah keterkaitan manusia
3.    Kornblum
Struktur sosial adalah pola perilaku individu dan kelompok yaitu pola berulang-ulang yng menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.
4.    Raymond Flirth
Struktur sosial adalah suatu pergaulan manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang terjadi dari banyak orang dan meliputi pula lembaga-lembaga dimana orang banyak tersebut ambil bagian.
5.    Soerjono Soekanto
Struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dalam peranan-peranan sosial
6.    E.R. Lanch
Struktur sosial adalah cita-cita tentang distribusi kekuasaan di antara individu dan kelompok sosial

B.  Ciri-Ciri struktur Sosial
Secara umum struktur sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Bersifat abstrak
2.    Terdapat dimensi vertical dan horizontal
3.    Sebagai landasan sebuah proses sosial suatu masyarakat
4.    Merupakan bagian dari system pengaturan tata kelakuan dan pola hubungan masyarakat
5.    Struktur sosial selalu berkembang dan berubah
C.  Unsur-Unsur Struktur Sosial
Ø  Menurut Loomis struktur sosial tersusun atas 10 unsur penting, yaitu:
1.    Adanya pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki anggota masyarakat sebagai pedoman hidup
2.    Adanya perasaan solidaritas dari anggota-anggota masyarakat
3.    Adanya tujuan dan cita-cita yang sama dari warga masyarakat
4.    Adanya nilai-nilai dan norma sosial sebagai patokan dan pedoman tingkah laku
5.    Adanya kedudukan dan peranan sosial yang mengarahkan perilaku masyarakat
6.    Adanya kekuasaan dari anggota masyarakat yang memegang kekuasaan
7.    Adanya tingkatan dalam system sosial yang ditentukan oleh status dan peranan anggota masyarakat
8.    Adanya system sanksi terhadap pelanggaran norma
9.    Adanya sarana atau alat perlengkapan system sosial
10.  Adanya system ketegangan, konflik atau penyimpangan yang menyertai perbedaan kemampuan dan persepsi dari warga masyarakat.
Ø  Menurut Soerjono Soekanto unsur struktur sosial antara lain:
1.    Kelompok sosial
2.    Kebudayaan
3.    Lembaga sosial
4.    Stratifikasi sosial
5.    Kekuasaan dan wewenang
D.  Fungsi Struktur Sosial
  1. Sebagai dasar untuk menanamkan suatu disiplin sosial. Fungsi struktur sosial  disini berkaitan dengan aturan  - aturan yang berasal dari suatu kelompok social, diharapkan setiap anggota kelompok tersebut bersikap dan bertindak sesuai dengan harapan – harapn kelompoknya.
  2. Sebagai pengawas sosial. Dalam suatu struktur social terdapat berbagai perilaku social yang umumnya tetap dan teratur. Fungsi struktur social disini adalah sebagai pembatas agar setiap anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang dianut masyarakat tersebut.
  3. Struktur social merupakan karakteristik yang khas yang dimiliki suatu masyarakat sehingga dapat memberikan warna yang berbeda dari masyarakat lain.
  4. Fungsi Identitas. Sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh kelompok. Contoh : kebudayaan Minangkabau menganut sistem matrilineal
  5. Fungsi Kontrol    : berfungsi untuk mengontrol individu di dalam struktur tersebut. Contoh  : kebudayaan Batak melarang perkawinan antara pria dan wanita  yang semarga.
  6. Fungsi Pembelajaran : individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam kelompoknya. Contoh : dalam struktur masyarakat muslim anak –anak usia balita diajarkan kebiasaan mengucapkan salam jika bertemu orang lain

D. Bentuk – Bentuk Struktur Sosial
1.   Dilihat dari sifatnya:
a.    Struktur social kaku
Merupakan bentuk struktur social yang tidak dapat dirubah atau sekurang – kurangnya masyarakat menghadapi kesulitan besar untuk melakukan perpindahan status atau kedudukannya. Struktur social yang demikian, biasanya terdapat pada masyarakat yang menganut system kasta, dimana status seseorang sudah ditentukan sejak lahir.

b.    Struktur sosial luwes
Merupakan kebalikan dari struktur social kaku. Pada struktur social luwes setiap anggota masyarakatnya bebas bergerak melakukan perubahan. Biasanya terdapat pada masyarakat yang memiliki stratifikasi social terbuka.
c.    Struktur sosial formal
Merupakan suatu bentuk struktur social yang diakui oleh pihak yang berwenang. Contohnya, lembaga pemerintahan tingkat kabupaten yang terdiri dari seorang bupati, wakil bupati, sekwilda, dan lain – lain.
d.    Struktur sosial Informal
Merupakan kebalikan dari struktur social formal, yaitu struktur social yang nyata ada dan berfungsi tetapi tidak memiliki ketetapan hukum dan tidak diakui oleh pihak berwenang. Contohnya, dalam sebuah masyarakat terdapat tokoh – tokoh kunci yang memiliki wibawa dan kharisma, disegani dan dipatuhi oleh anggota masyarakatnya, tetapi mereka tidak berada dalam suatu struktur yang formal.
2.   Dilihat dari Identitas Keanggotaan Masyarakatnya:
a.    Struktur sosial Homogen
Pada struktur yang homogen memiliki latar belakang kesamaan identitas dari setiap anggota masyarakatnya,seperti kesamaan ras, suku bangsa,ataupun agama. Contohnya pada masyarakat suku Badui dalam, setiap anggota masyrakatnya memiliki nenek moyang yang sama serta kepercayaan yang sama. Dalam masyarakat yang memilliki struktur social yang homogen cenderung tidak menginikan perubahan-perubahan.
b.    Struktur sosial Heterogen
Struktur social ini ditandai oleh keanekaragaman identitas anggota masyarakatnya. Struktur social yang heterogen memiliki latar belakang ras, suku ataupun agama yang berbeda dari para anggota masyarakaatnya. Contohnya, bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa,ras dan agama yang berbeda.
3.   Dilihat dari ketidaksamaan sosial:
a.   Diferensiasi Sosial
Pengertian Diferensiasi Sosial adalah perbedaan individu atau kelompok dalam masyarakat yang tidak menunjukkan adanya suatu tingkatan (hierarki). Dengan kata lain, diferenasiasi social merupakan klasifikasi terhadap perbedaan – perbedaan yang biasanya sama. Artinya, tidak ada golongan dari pembagiann tersebut yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi ataupun lebih rendah.

Ø  Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial:

1.   Diferensiasi Ras
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Diferensiasi ras adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya.
Secara garis besar manusia terbagi ke dalam ras-ras sebagai berikut:
a.    Menurut A..L. Krober
1)    Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin).
2)    Mongoloid
-    Asiatik Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur).
-    Malayan Mongoloid (Asia Tenggara dan Penduduk Asli Taiwan).
-    American Mongoloid (Penduduk asli Amerika).
3)    Kaukasoid
-    Nordic (Erofa Utara, sekitar Laut Baltik).
-    Alpine (Erofa Tengah dan Erofa Timur).
-    Mediterania (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran).
-    Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka).
4)    Negroid
-    African Negroid (Benua Afrika).
-    Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina).
-    Malanesian (Irian, Melanesia).
5)    Ras-ras Khusus (tidak dapat diklasifikasikan kedalam empat ras pokok)
-    Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan).
-    Veddoid (pedalaman Sri Langka, Sulawesi Selatan).
-    Polynesian (kepulauan Micronesia, dan Polinesia).
-    Ainu ( di pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang).
b.    Menurut Ralph Linton
1)    Mongoloid
Ciri-ciri:
-    kulit kuning sampai sawo mateng
-    rambut lurus
-    bulu badan sedikit
-    mata sipit (Asia Mongoloid)
·    Mongoloid Asia : Sub Ras Tionghoa (Jepang, Vietnam, Taiwan)
Sub Ras Melayu (Malaysia, Filipina, Indonesia)
·    Mongoloid Andian (orang Indian di Amerika)
2)    Kaukasoid
Ciri-ciri:
-    hidung mancung
-    kulit putih
-    rambut pirang sampai coklat kepirang kehitaman
-    kelopak mata lurus
·    Ras Nordic
·    Alpin Mediteran
·    Armenoid
·    India
3)    Negroid
Ciri-ciri:
-    rambut keriting
-    kulit hitam
-    bibir tebal
-    kelopak mata lurus
·    Sub Ras Negroid
·    Nilitz
·    Negro Rimba
·    Negro Oseanis
·    Hetentot Boysesman
Indonesia didiami oleh bermacam-macam Sub Ras, antara lain:
·    Negrito, suku Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
·    Veddoid, suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatra Selatan, Toala dan Tomuna di   Sulawesi.
·    Neo Melanosoid, kepulauan Kei dan Aru.
·    Melayu:
-    Melayu Tua (Proto Melayu), orang Batak, Toraja dan Dayak.
-    Melayu Muda (Deutro Melayu), orang Aceh, Minang, Bugis/Makasar.
2.    Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)
Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis.
Diferensiasi suku bangsa merupakan penggolongan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras, namun suku bangsa memiliki kesamaan budaya sebagai berikut:
-    Ciri fisik
-    Bahasa daerah
-    Kesenian
-    Adat-istiadat
Suku bangsa yang ada di Indonesia yaitu sebagai berikut:
·    Pulau Sumatra : Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkuku, Jambi, Palembang, Melayu dan sebagainya.
·    Pulau Jawa : Sunda, Jawa, Tengger dan sebagainya.
·    Pulau Kalimantan : Dayak, Banjar dan sebagainya.
·    Pulau Sulawesi : Bugis, Toraja, Minahasa, Toil-Toli, Makassar, Bolaang-mangondow, Gorontalo dan sebagainya.
·    Kepulauan Nusa Tenggara : Bali, Bima Lombok, Flores, Timoer, Rote.
·    Kepulauan Maluku dan Irian : Ternate, Tidore, Dani Asmat.
3.    Diferensiasi Klen (Clan)
Klen / kerabat luas / keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adapt (tradisi). Klen adalah system social berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi di masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) atau ibu (matrilineal).
·    Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) terdapat pada:
-    Masyarakat Batak (sebutan Marga)
-    Marga Batak Karo : Ginting, Sembiring, Singarimbun, Barus, Tambun, Paranginangin.
-    Marga Batak Toba : Nababan, Simatupang, Siregar.
-    Marga Batak Mandailing : Harahap, Rangkuti, Nasution, Batubara, Daulay.
-    Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) antara lain : Mandagi, Lasut, Tombokan, Pangkarego, Paat, Supit.
-    Masyrakat Ambon (klennya disebut Fam) antara lain : Pattinasarani, Latuconsina, Lotul, Manuhutu, Goeslaw.
-    Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De-Rosari, Paeira.
·    Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat :
-    Minangkabau, klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampung-kampung, nama klennya antara lain : Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai dan sebagainya.
-    Masyarakat Flores, yaitu suku Ngadu juga menggunakan system matrilineal.
4.    Diferensiasi Agama
Diferensiasi agama adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.
a.    Komponen-komponen Agama
·    Emosi keagamaan
·    System keyakinan
·    Upacara keagamaan
·    Tempat ibadah
·    Umat
b.    Agama dan Masyarakat
Dalam perkembangan agama mempengaruhi masyarakat begitu juga masyarakat mempengaruhi agama.
5.    Diferensiasi Profesi (pekerjaan)
Diferensiasi profesi adalah pengelompokan masyarakat atas dasar jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan keterampilan khusus. Misal profesi guru memerlukan keterampilan khusus, seperti: pandai berbicara, bisa membimbing, sabar dan sebagainya.
Berdasarkan perbedaan profesi orang dimasyarakat berprofesi: guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negri, tentara dan sebagainya.
6.    Diferensiasi Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu maka ada kelompok laki-laki/pria dan kelompok wanita/perempuan.
7.    Diferensiasi Asal Daerah
Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:
-    masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa.
-    Masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.
Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat ditemukan dalam hal-hal berikut:
-    perilaku
-    tutur kata
-    cara berpakaian
-    cara menghias rumah dan sebagainya.

Ø  Pengaruh Deferensiasi Sosial
Kemajemukan social atau diferensiasi social dalam masyarakat akan membawa pengaruh, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negative. Di antaranya adalah paham primordialisme, entrosentrisme, dan sekratarian (politik aliran).
a.    Primordialisme
Primordialisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa kelompoknya lebih baik dibanding dengan kelompok lain. Dalam masyarakat yang majemuk paham primordialisme hampir selalu terjadi. Hal ini karena adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu dalam suatu kelompok social, serta adanya keinginan untuk memelihara keutuhan kelompoknya.
Contoh primordialisme dalam masyarakat adalah adanya praktik nepotisme dalam merekrut atau menempatkan orang-orang yang berasal dari daerah atau suku bangasa yang sama dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
Segi positif paham ini adalah dapat mengikat dan memperkuat ikatan suatu kelompok terutama dalam menghadapi ancaman dari luar. Sedangkan segi negatifnya adalah membangkitkan prasangka dan permusuhan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham atau tidak sama dengan kelompoknya. Hal tersebut rawan terhadap munculnya konflik social.
b.    Etnosentrisme
Etnosentrisme adalah suatu sikap atau paham yang menganggap budaya masyarakatnya lebih tinggi dibanding dengan budaya masyarakat yang lain. Contohnya , aliran Nasionalis-Sosialis (Nazi) yang beranggapan ras Arya-lah yang paling unggul untuk menguasai dunia. Seperti halnya primordialisme, etnosentrisme dapat menjadikan ikatan kelompoknya semakin kuat, bahkan dapat menimbulkan semangat kebangsaan atau semangat patriotisme. Namun, disisi lain etnosentrisme dapat menimbulkan konflik antar golongan atau kebudayaan.
c.    Sektarian (politik aliran)
Sektarian atau politik aliran merupakan keadaan dimana sebuah kelompok atau oraganisasi tertentu dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa (ormas), baik formal maupun informal yang menjadi pengikutnya. Biasanya dalam politik aliran ada pengikat diantara anggotanya berdasarkan persamaan ideology. Misalnya, parpol PKB dikelilingi oleh ormas-ormas NU. Politik aliran dalam masyarakat yang majemuk rawan terhadap terjadinya konflik antara kelompok-kelopmok yang ada.

b.  Stratifikasi Sosial
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas menjelaskan bahwa pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.
Pengertian Stratifikasi Sosial menurut Sofa adalah sebagai berikut :Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achieved status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.
       Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut:
1.      Ukuran kekuasaan dan wewenang. Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
2.      Ukuran kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
3.      Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya.Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
4.      Ukuran ilmu pengetahuan.Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya

Ø  Jenis-Jenis/Macam-Macam Status Sosial & Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat

1. Ascribed Status
Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
2. Achieved Status
Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
3. Assigned Status
Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.

Ø  Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat / bangsawan darah biru.
2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.
Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi
Ø  Pengaruh Stratifikasi Sosial
Konsekuensi stratifikasi social menyebabkan adanya perbedaan sikap dari orang-orang yang berada dalam strata sosial tertentu berdasarkan kekuasaan, privilese, dan prestise. Perbedaan sikap tersebut tercernin dari gaya hidup seseorang sesuai dengan strata sosialnya. Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara berpakaian, tempat tinggal, cara bicara, pemilihan tempat pandidikan, hobi, dan tempat rekreasi.

II.      KONFLIK
A.     Pengertian Konflik
Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai konflik, diantaranya sebagai berikut.
  1. Menurut Berstein (1965), konflik merupakan suatu pertentangan, perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik mempunyai potensi memberikan pengaruh positif dan adapula yang negative didallam interaksi manusia.
  2. Menurut Dr. Robert M.Z. Lawang, konflik itu adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
  3. Menurut Drs. Ariyono Suyono, konflik adalah proses atau keadaan dimana dua pihak berusaha menggagalkan tujuan tercapainya masing – masing yang disebabkan adanya perbedaan pendapat, nilai – nilai ataupun tuntutan dari masing – masing pihak.
  4. Menurut James W. Vander Zanden, konflik diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka.
  5. Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.

B.     Faktor – faktor penyebab konflik
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan – perbedaan sosial diantara individu yang terlibat dalam suatu interaksi sosial. Faktor yang menyebabkan terjadinya konflik di dalam masyarakat antara lain:
1.    Perbedaan antar individu
Perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggaan, dan identitas seseorang. Misalnya dalam sebuah ruangan kantor ada karyawan yang terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik dengan suara keras, tetapi karyawan lain lebih menyukai bekerja dengan suasana yang tenang, sehingga kebisingan merupakan hal yang mengganggu konsentrasi dalam bekerja. Perbedaan perasaan dan kebiasaan tersebut menimbulkan rasa benci dan amarah sebagai awal timbulnya konflik.
2.    Perbedaan Latar belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat . Tidak semua masyarakat memiliki nilai – nilai dan norma – norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu dianggap baik oleh masyarakat lain. Misalnya, seseorang yang dibesarkan dalam suatu lingkungann keluarga dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai – nilai tradisional bertemu dengan seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai – nilai modern, maka akan terdapat perbedaan – perbedaan nilai yang dianut oleh kedua belah pihak sehingga menimbulkan konflik.
3.   Perbedaan Kepentingan
Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Misalnya, seorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya suatu produksi sehingga dengan terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun, pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak – haknya diabaikan sehingga perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan konflik.
4.    Perubahan Sosial
Konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau masyarakat dengan kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan tersebut. Jadi, secara umum, suatu konflik dapat terjadi apabila seseorang atau kelompok terhalang upayanya dalam mencapai tujuan. Hal ini karena adanya perbedaan paham terhadap tujuan itu sendiri, terhadap nilai – nilai sosial dan norma – norma sosial, maupun terhadap tindakan – tindakan dalam masyarakat. Terlebih lagi apabila sanksi bagi pelanggaran atas nilai dan norma tidak dijalankan dengan adil, maka konflik dapt berubah menjadi kekerasan.

C.   Bentuk – bentuk Konflik
a.   Konflik Berdasarkan Sifatnya
  1. Konflik Destruktif
Merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada konflik ini terjadi bentrokan – bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Contohnya, konflik Ambon, Poso, Kupang, dan Sambas.

  1. Konflik Konstruktif
Merupakan konflik yang bersifat fungsional, komflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok – kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini akan menghasilkan suatu consensus dari perbedaan pendapat tersebut dan menghasilkan suatu perbaikan. Misalnya, perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.

b.  Berdasarkan Posisi Pelaku yang Berkonflik
  1. Konflik Vertikal merupakan konflilk antar komponen masyarakat didalam satu struktur yang memiliki hierarki. Contohnya, konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam sebuah kantor.
  2. Konflik Horizontal merupan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang relative sama. Contohnya, konflik yang terjadi antarorganisasi massa.
  3. Konflik Diagonal merupakan konflik yang terjadi karena adanya terjadi ketidakadilan alokasi sumber daya keseluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrim. Contohnya, konflik Aceh.

c.   Berdasarkan Sifat Pelaku yang Berkonflik
  1. Konflik terbuka, merupakan konflik yang diketahui oleh semua pihak. Contohnya, konflik Palestina-Israil.
  2. Konflik tertutup, merupakan konflik yang hanya dikrtahui oleh oaring-orang atau kelompok yang terlibat konflik.

d.  Berdasarkan Konsentrasi Aktivitas Manusia di Dalam Masyarakat
             Konflik dibedakan menjadi konflik sosial, konflik politik, konflik ekonomi, konflik budaya dan konflik ideologi.
1.   Konflik sosial merupakan  konflik yang terjadi akibat adanya perbedaan kepentungan sosial dari pihak yang berkonflik. Konflik sosial ini dapat dibedakan menjadi konflik sosial vertikan dan konflik sosial horizontal. Konflik ini seringkali terjadi karena adanya provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
a)      Konflik sosial vertical, yaitu konflik yang terjadi antara masyarakat dan Negara. Contohnya, kemarahan massa yang berujung pada peristiwa Trisakti (12 Mei 1998).
b)      Konflik sosoial horizontal, yaitu konflik yang terjadi antaretnis, suku, golongan, atau antarkelompok masyarakat. Contohnya, konflik yang terjadi di Ambon.
2.   Konflik politik merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan kekuasaan. Contohnya, konflik yang terjadi antar pengikut suatu parpol.
3.   Konflik ekonomi merupakan konflik akibat adanya perebutan sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonflik. Contohnya, konflik antar pengusaha ketika melakukan tender.
4.   Konflik budaya merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik.contohnya,adanya perbedaan pendapat antar kelompok dalam menafsirkan RUU antipornografi dan pornoaksi.
5.   Konflik ideologi merupakan konflik akibat adanya perbedaan paham yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang.contohnya,konflik yang terjadi pada saat G-30-S/PKI

e.    Berdasarkan Cara Pngelolahannya
 Berdasarkan cara pengelolaannya ,konflik dapat dibedakan menjadi konflik inter individu, konflik antar individu , dan konflik antar kelompok sosial.
1.    Konflik inter individu merupakan tipe yang paling erat kaitannya dengan emosi individu hingga tingkat keresahan yang paling tinggi .Konflik dapat muncul dari dua penyebab , yaitu karena kelebihan beban (role overloads) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan peranann (personrole incompatibilities). Dalam kondisi pertama seseorang mendapat beban berlebih akibat status (kedudukan) yang dimiliki , sedang dalam kondisi yang kedua seseorang memang tidak memiliki keesuaian yang cukup untuk melaksanakan peranan sesuai dengan statusnya . Prespektif konflik interindividu mencakup tiga macam situasi alternative berikut:
b.   konflik pendekatan –pendekatan, seseorang harus memilih di antara dua buah alternative behavior yang sama –sama
c.   Konflik menghindari – menghindari, seseorang dipaksa untuk memilih antara tujuan-tujuan yang sama-sama tidak atraktif dan tidak diinginkan.
d.   Konflik pendekatan – menghindari multiple, seseorang menghadapi kemungkinan pilihan kombinasi multiple, dari  pendekatan-menghindari.

2. Konfik antarindividu merupakan konflik yang terjadi antara seseorang dengan satu orang atau lebih,sifatnya kadang-kadang substantif menyangkut perbedaan gagasan, pendapat, kepentingan, atau bersifat emosional, menyangkut perbedaan selera, dan perasaan likel/dislike(suka/tidak suka). Setiap orang pernah mengalami situasi konflik semacam ini, ia banyak mewarnai tipe-tipe konflik kelompok maupun konflik organisasi. Karena konflik tipe ini berbentuk konfrontasi dengan seseorang atau lebih,maka konflik antarindividu ini juga merupakan target yang perlu dikelola secara baik
3. Konflik antarkelompok merupakan konflik yang banyak dijumpai dalam kenyataan hidup manusia sebagai makhluk sosial,karena mereka hidup dalam kelompok-kelompok.Contohnya, konflik antarkampung.
D.  Dampak adanya konflik
            Dalam kehidupan masyarakat majemuk sering terjadi pertentangan antara satu aspek dengan aspek lainnya.Sumber potensi konflik yang rentan terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalaah masalah agama,ras,dan suku bangsa.Setiap konflik yang terjadi dalam masyarakat akn membawa dampak,baik dampak secara langsung maupun dampak tidak langsung.
a. Dampak  Negatif konflik
1.    Menimbulkan keretakan hubungan antara individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lainnya.
  1. Adanya perubahan kepribadian seseorang,seperti selalu memunculkan rasa curiga,rasa benci,dan akhirnya dapat berubah menjadi tindakan kekerasan.
  2. Hancurnya harta benda dan korban jiwa,jika konflik tersebut berubah menjadi tindakan kekerasan.
  3. Kemiskinan bertambah akibat jika kondusifnya keamanan.
  4. Lumpuhnya roda perekonomian jika suatu kondisi berlanjut menjadi tindakan kekerasan.
  5. Pendidikan formal dan informal terhambat karena rusaknya sarana dan prasarana pendidikan.

b. Dampak Positif adanya konflik
1.      Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in group solidarity)
2.      Munculnya pribadi-pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi konflik.
3.      Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
4.      Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang. Misalnya, adanya kesadaran dari pihak-pihak yang berkonflik untuk bersatu kembali, karena dirasakan bahwa konflik yang berlarut tidak membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.
E.  Konflik dan Kekerasan
Dalam banyak definisi, ancaman dan kekerasan selalu dikaitkan dengan konflik, kekerasan merupakan alat dari konflik untuk mencapai tujuan. Dapat juga dikatan bahwa kekerasan merupakan proses akhir dari konflik.
      Namun, sesungguhnya konflik berbeda dengan kekerasan. Menurut Prof. DR. Winardi, S.E., konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antar orang-orang, kelompok-kelompok, atau oraganisasi-organisasi berkaitan dengan perbedaan-perbedaan pendapat, keyakinan-keyakinan, ide-ide, maupun kepentingan-kepentingan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1988), koflik adalah percekcokan, perselisihan, pertentangann, ketegangan diantara orang-perorangan atau kelompok. Kekerasan berarti perbuatan seorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Konflik sering kali berubah menjadi kekerasan terutama apabila upaya-upaya berkaitan dengan pengelolaan konflik tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh pihak yang berkaitan. Demikian pula bila upaya memperoleh keadian di pengadidan ternyata gagal.
      Dari tujuan makro, pakar studi konflik dari universitas Oxford, France Stewart, menyebut empat kategori Negara yang berpotensi konflik yang kemudian berlanjut ke tindak kekerasan: Negara dengan pendapatan dan pembangunan manusianya rendah; Negara yang pernah terlibat dalam konflik serius dalam 30 tahun terakhir; Negara dengan perbedaan tingkat horizontal yang tinggi; dan Negara yang rezim politiknya berada dalam transisi rezim refresif menuju rezim yang lebih demokratis. Dalam kenyataan hidup manusia, antara konflik dengan kekerasan dapat dibedakan, namun acap kali dapat dipisahkan secara eksplesit.
  1. Teori-Teori kekerasan
Menurut Thomas Santoso, teori kekerasan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut:
ØTeori kekerasan sebagai tindakan aktor (individu) atau kelompok.
Para ahli teori kekerasan kolektif ini berpendapat bahwa manusia melakukan kekerasan karena adnaya faktor bawaan, seperti kelainan genetic atau fisiologis. Menurut para ahli teori ini agresifitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan, seperti kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, ataupun dilakukan oleh pasangan suami istri. Wujud kekrasan yang dilakukan oleh individu tersebut dapat berupa pemukulan, penganiayaan, ataupun kekerasan verbal berupa kata-kata kasar yang merendahkan martabat seseorang. Sedangkan kekerasan kolektif merupakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang atau sekelompok orang (crowd). Munculnya tindak kekerasan kolektif ini biasanya karena adanya benturan identitas suatu kelompok dengan kelompok lain, seperti identitas berdasarkan agama atau etnik. Contohnya, kekerasan yang terjadi di Poso dan Revolusi eropa pada abad – 19.
Ø  Teori Kekerasan Struktural
Menurut teori ini kekerasan structural bukan berasal dari orang tertentu, melainkan terbentuk dalam  suatu system sosial. Para ahli teori ini, memandang kekerasan tidak hanya dilakukan oleh aktor (individu) atau kelompok semata, tetapi juga dipengaruhi oleh suatu struktur, seperti aparatur Negara.
Pada umumnya, bila seseorang atau kelompok memiliki harta kekayaan berlimpah, maka akan selalu ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan kecuali ada hambatan yang jelas dan tegas. Sebagai contoh kekerasan structural adalah terjadinya kasus Timor – Timur, kasus Tanjung Priok, seputar kerusuhan Mei 1998, dan lain – lain.
Ø  Teori Kekerasan sebagai kaitan antara aktor dan struktur
Menurut pendapat para ahli teori ini, konflik merupakan sesuatu yang telah ditentukan sehingga bersifat endemic  bagi kehidupan masyarakat. Menurut Thomas Santoso istilah kekerasan digunakan  untuk menggambarkan perilaku baik terbuka (overt) atau tertutup (covert), dan yang bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (defensive), yang disertai penggunaan kekuatan pada orang lain. Oleh karena itu ada 4 jenis kekerasan yang dapat di identifikasi :
    1. kekerasan Terbuka (kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian)
    2. Kekerasan Tertutup (kekerasan tersembunyi atau secara tidak langsung dilakukan, seperti pengancaman)
    3. Kekerasan Agresif (kekerasan yang dilakukan unutk mendapatkan sesuatu, seperti Penjambretan)
    4. Kekerasan Defensif (kekerasan untuk melindungi diri)
F.  Cara Pengendalian Konflik dan Kekerasan
Ø  Pengendalian Secara Umum
1.   Konsiliasi
Merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembaga – lembaga tertentu yang dapat memberikan keputusan dengan adil. Contoh pengendalian konflik ini seperti, melalui Lembaga Perwakilan Rakyat.
2.   Arbitrasi
Merupakan bentuk pengendalian konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya. Keputusan – keputusan yang diambil pihak ketiga harus dipatuhi oleh pihak – pihak yang berkonflik.
3.   Mediasi
Merupakan bentuk pengendalian konflik sosial dimana pihak – pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Namun berbeda dengan arbitrasi, keputusan – keputusan pihak ketiga tidak mengikuti pihak manapun.
4.   Ajudication
Merupakan cara penyelesaian konflik melalui pengadilan.
Ø  Pengendalian Menggunakan Manajemen Konflik
Disamping cara – cara tersebut diatas, gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam menghadapi situasi konflik dapat dilaksanakan sehubungan dengan tekanan relative atas apa yang dinamakan Cooperativeness dan Assertiveness.
Cooperativeness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok lain. Assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan minat individu/kelompok itu sendiri.

III.    MOBILITAS SOSIAL
A.     Pengertian Mobilitas Sosial
            Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.Kata sosial yang ada pada istilah mobilitas sosial untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok social. Jadi Mobilitas Sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain.
Pengertian Mobilitas Menurut Para Ahli
1.    Menurut Soerjono Sokanto
Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur social, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
2.    Menurut Paul B. Horton
Mobilitas Sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.
3.    Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack,
Mobilitas Sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individudalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup.
Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.
                  
B.     Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
Dilihat dari arah pergerakannya, terdapat dua bentuk mobilitas sosial, yaitu mobilitas vertical dan mobilitas horisantal.
a.      Mobilitas Vertical
Mobilitas Vertical adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang atu sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Dalam mobilitas vertical terjadi perpindahan status tidak sederajat, yaitu bergerak niak ataupun turun dari strata satu ke strata yang lain.
Mobilitas Vertical dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.      Mobilitas Vertical Ke Atas  (Social Climbing)
Social Climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan status atau kedudukan seseorang.  Mobilitas vertikal ke atas atau social climbing mempunyai dua bentuk yang utama, yaitu:
·       Masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, di mana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya.
     Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah.
·       Membentuk kelompok baru. Pembentukan suatu kelompok baru memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya, misalnya dengan mengangkat diri menjadi ketua organisasi.
     Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik.
v  Penyebab Mobilitas Vertical Ke Atas  (Social Climbing)
-          Melakukan peningkatan prestasi kerja. Misalnya, seorang karyawn yang memiliki reputasi yang baik dan selalu memilki ide-ide cemerlang untuk memajukan perusahaan, maka ia akan dipromosikan untuk menduduki suatu jabatan yang lebih tinggi.
-          Menggantikan kedudukan yang kosong akibat adanya proses peralihan generasi.

2.      Mobilitas Vertical Ke Bawah ( Social Sinking )

Sosial Sinking merupakan proses penurunan status atau kedudukan sesorang. Proses Social Sinking seringkali menimbulkan gejolak spikis bagi seseorang karena ada perubahan pada hak dan kewajiban. Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua bentuk utama.

·            Turunnya kedudukan. Kedudukan individu turun ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah.
       Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya.
·            Turunnya derajat kelompok. Derajat sekelompok individu menjadi turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan.
       Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B. akibatnya, status sosial tim pun turun.
v  Penyebab Mobilitas Vertical Ke Bawah  (Social Sinking)
-          Berhalangan tetap atau sementara, misalnya sakit atau cacat tubuh.
-          Memasuki masa pensiun.
-          Berbuat kesalahan fatal yang menyebabkan diturunkan atau dipecat dari jabatannya.

b.     Mobilitas Horizontal
Mobilitas horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dalam mobilitas horizontal terjadi perpindahan yang sederajat, tidak terjadi perubahan derajat kedudukan seseorang atau sekelompok orang. Mobilitas sosial horizontal memiliki dua bentuk , yaitu:
1.  Mobilitas Antar Wilayah
           Mobilitas antarwilayah merupakan proses perpindahan status seseorang atau sekelompok orang dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Hal ini terjadi karena adanya perubahan dalam suatu struktur masyarakat yang disebabkan oleh factor ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Misalnya, seorang buruh tani pada saat musim paceklik pindah profesi menjadi buruh bangunan, yang artinya petani tersebut terpaksa pindah pekerjaan karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan di desanya.
2.   Mobilitas Antargenerasi
           Mobilitas Antargenerasi adalah perpindahan atau kedudukan yang terjadi dalam dua generasi atau lebih. Mobilitas Antargenerasi dapat di bedakan menjadi dua, yaitu :
a)    Mobilitas Intergenerasi
     Mobilitas Intergenerasi adalah perpindahan status atau kedudukan yang terjadi di antara beberapa generasi. Mobilitas intergenerasi terdiri dari dua bentuk. Yaitu Mobilitas Intergenerasi yang naik. Contoh: kakeknya sebagai petani, bapaknya sebagai guru, sedangkan anaknya sebagai pengusaha. Dan yang ke dua adalah Mobilitas intergenerasi yang turan. Contohnya: kakeknya sebagai bupati, bapaknya sebagai camat, sedangkan anaknya sebagai kepala desa.
b)    Mobilitas Intragenerasi
     Mobilitas Intragenerasi adalah perpindahan status social yang terjadi dalam satu generasi yang sama. Dalam mobilitas ini bisa juga terjadi gerak naik dan turun. Contoh yang naik adalah: ayahnya menjadi guru, sedangkan anaknya sebagai kepala sekolah. Dan contah yang turun adalah: kakaknya sebagai direksi dan adiknya sebagai karyawan.              
C.     Hubungan Struktur Sosial Dan  Mobilitas Sosial
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa mobilitas social merupakan perpindahan status atau kedudukan dari satu lapisan ke lapisan yang lain. Perpindahan tersebut terjadi dalam suatu struktur sosial yang berdimensi vertical. Artinya, mudah atau tidaknya seseorang melakukan mobilitas social tergantung pada struktur social masyarakatnya. Apabila masyarakat tersebut memiliki struktur social yang kaku, maka kemungkinan terjadinyamobilitas social sangat tipis, dan hal ini terjadi pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi social tertutup. Sedangkan pada masyarakat dengan struktur social yang luwes,terjadinya mobilitas social sangat besar, hal ini terjadi pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi social terbuka. Oleh sebab itu mobilitas social sangat erat hubungannya dengan stratifikasi social, terutama pada mobilitas social yang bersifat vertical.
v  Mobilitas Sosial Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Terbuka
           Masyarakat yang memiliki system stratifikasi social terbuka member kesempatan pada para anggotanya untuk melakukan mobilitas social vertical. Mobilitas social vertical yang terjadi dapat berupa social climbing ataupun social sinking. Hal ini terjadi karena dalam masyarakat yang berstratifikasi social terbuka komunikasi antar anggota masyarakat dari berbagai strata bersifat lebih terbuka serta proses komunikasi dan perubahan berjalan lebih lancer.
Dan dalam system stratifikasi social yang terbuka memunkinkan setiap anggota masyarakat bersifat aktif dan kreatif dalam melakukan perubahan-perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Mobilitas social dapat bergerak naik atau turun dari datu strata ke strata yang lain. Ada  beberapa prinsip umum dalam mobilitas social vertical. Prinsip umum tersrbut adalah sebagai berikut:
-       Tidak ada satupun masyarakat yang mutlak tertutup terhadap mobilitas sosial vertical.
-       Seterbuka apapun suatu masyarakatterhadap mobilitas social, terkadang tetap saja ada hambatan-hambatan. Karena jika tanpa adanya hambatan maka tak aka nada stratifikasi social yang menjadi cirri umum setiap masyarakat.
-       Setiap  masyarakat pasti memiliki tipe mobilitas social verticalnya sendiri-sendiri, tidak ada tipe yang berlaku umum bagi setiap masyarakat.
-       Laju mobilitas social di sebabkan oleh factor ekonomi, politik dan pekerjaan yang berbeda-beda.
-       Mobilitas social yang disebabkan oleh factor ekonomi, politik dan pekerjaan, tidak menunjukkan adanya kecenderungan yang kontinu tentang bertambah atau berkurangnya laju mobilitas social.
v  Mobilitas Social Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Yang Tertutup
           Pada masyarakat yang menganut system stratifikasi social yang tertutup, kemungkinan terjadinya mobilitas soaial vertical sangatlah kecil. Hal ini terjadi karena masyarakat lebih mengutamakan nilai-nilai tradiosional dan menolak adanya perubahan. Sehingga tidak terdapat mobilotas social vertical dalam masyarakat.
Menurut Soedjatmoko, mudah tidaknya seseorang melakukan mobilitas social vertical, salah satunya ditentukan oleh kekakuan dan keluwesan struktur social dimana orang itu hidup. Mereka yang memiliki bekal pendidikan yang tinggi dan hidup di lingkungan masyarakat yang menghargai profesionalisme, besar kemungkinan akan lebih mudah menembus batas-batas lapisan social dan naik ke kedudukan yang lebih tinggi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Dan sebaliknya, setinggi apapun tingkat pendidikan seseorang, tetapi bila ia hidup pada suatu lingkungan masyarakat yang masih kuat nilai-nilaiprimordialisme dan system hubungan koneksi, maka kecil kemungkinannya orang tersebut akan bisa lancer jenjang karirnya dalam bekerja.
D.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
1.      Perubahan Kondisi Sosial
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.
2.      Ekspansi Teritorial dan Gerak Populasi
Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.
3.      Komunikasi yang Bebas
Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.
4.      Pembagian Kerja
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.
5.      Tingkat Fertilitas (Kelahiran) yang Berbeda
Kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Pada pihak lain, masyarakat kelas sosial yang lebih tinggi cenderung membatasi tingkat reproduksi dan angka kelahiran. Pada saat itu, orang-orang dari tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak bereproduksi dan memperbaiki kualitas keturunan. Dalam situasi itu, mobilitas sosial dapat terjadi.
6.      Kemudahan dalam Akses Pendidikan
Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.
E.     Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
Secara umum, situasi pendorong mobilitas social dapat di bedakan menjadi beberapa factor berikut:
1.    Faktor Struktural
Faktor Struktural adalah jumlah relative dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor structural adalah sebagai berikut.
·         Struktur Pekerjaan
Di setiap masyarakat terdapat beberapa kedudukan tinggi dan rendah yang harus diisi oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Biasanya ini terkait dengan kegiatan perekonomian masyarakat tersebut. Misalnya, masyarakat atau negara yang kegiatan ekonominya berbasis industry dengan teknologi canggih, kedudukan yang berstatus tinggi lebihbanyak bila di bandingkan dengan yang kedudukannya rendahsehingga mereka yang kedudukannya rendah, akan terpacu untuk menaikkan kedudukan social ekonominya.
·         Perbedaan Fertilitas
Setiap masyarakat memiliki tingkat fertilitas (kelahiran) yang berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi atau rendah. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses mobilitas social yang akan berlangsung.
·         Ekonomi Ganda
Suatu negara mungkin saja menerapkan system ekonomi ganda (tradisional dan modern), contohnya di negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Hal itu tentu akan berdampak pada jumlah pekerjaan,baik yang berstatus tinggi maupun yang rendah. Kesempatan mobilitas seseorang tergantung padakeberhasilan dalam melakukan pekerjaan yang diminatinya, karena dalam masyarakat modern, kenaikan status social sangat dipengaruhi oleh factor prestasi yang diraih.

2.    Faktor Individu
Faktor individu adalah kualitas seseorang, baik ditinjau dari segi pendidikan, penampilan, maupun keterampilan pribadi. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor individu adalah sebagai berikut:
a) Perbedaan Kemampuan
Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang cakap (memiliki kemampuan yang lebih) mempunyai kesempatan dalam menfentukan mobilitas sosial (keberhasilan hidup). Misalnya untuk bekerja di instansi-instansi terbaik dibutuhkan sumber daya manusia lulusan dari perguruan tinggi ternama, baik dalam maupun luar negeri.
b) Orientasi Sikap Terhadap Mobilitas
Banyak cara yang dilakukan oleh para individu dalam meningkatkan prospek mobilitas sosialnya, antara lain melalui pendidikan, kebiasaan kerja, penundaan kesenangan, dan memperbaiki penampilan diri. Contonya, untuk menaikkan posisinya, seorang karyawan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan rela mengikuti kursus-kursus yang dapat menunjangketerampilannya.
c) Faktor Kemujuran
Walaupun seseorang telah berusaha keras dalam mencapai tujuannya, tetapi kendala mengalami kegagalan. Hal ini diakibatkan karena adanya faktor yang banyak disepelekan orang, yaitu kemujuran.
3.Status Sosial
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya, karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri di lapisan sosial yang lebih tinggi, tentu saja dengan melihat kemampuan dan jalan yang dapat ditempuh, dan hal ini hanya mungkin terjadi dalam masyarakat yang memiliki struktur sosial yang luwes.
4.     Keadaan Ekonomi
Keadaaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah tempat tinggal yang tandus karena kehabisan sumber daya alam, kemudian mereka yang tidak mau menerima keadaan ini berpindah tempat tinggal ke daerah lain (bermigrasi) atau ke kota besar (berurbanisasi). Secara sosiologis mereka dikatakan mengalami mobilitas.
5.     Situasi Politik
Situasi politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan memengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman. Atau bisa juga disebabkan oleh sistem politik pemerintah yang bertentangan dengan hati nurani maupun paham yang dianut. Jadi, meskipun negaranya subur (kaya akan sumber daya alam), namun kondisi politik yang tidak kondusif bisa memengaruhi mobilitas masyarakat.

6.     Kependudukan (Demografi)
Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalamarti geografik. Di satu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesat mengakibatkan sempitnya tempat pemukiman dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela. Keadaan demikian mendorong sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman yang lain. Misalnya, kepadatan di Pulau Jawa mendorong para penduduk mengikuti program transmigrasi ke luar Pulau Jawa.
7.     Keinginan Melihat Daerah Lain
Adanya keinginan melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain, misalnya berekreasi ke daerah-daerah tujuan wisata.

F.     Faktor Penghambat Mobilitas Sosial
Selain faktor pendorong terdapat pula faktor yang dapat menghambat terjadinya mobilitas sosial. Beberapa faktor penghambat terjadinya mobilitas sosial antara lain sebagai berikut.
a. Kemiskinan
Faktor ekonomi dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin, mencapai status sosial tertentu merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Misalnya, memutuskan tidak melanjutkan sekolah karena orang tua tidak mampu membiayai.
b. Diskriminasi Kelas
Sistem kelas tertutup dapat menghalangi mobilitas ke atas, terbukti dengan adanya pembatasan keanggotaan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan.
c. Perbedaan Ras dan Agama
Dalam sistem kelas tertutup tidak memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal ke atas. Dalam agama tidak dibenarkan seseorang dengan sebebas-bebasnya dan sekendak hatinya berpindah-pindah agama sesuai keinginannya.
d. Perbedaan Jenis Kelamin (Gender)
Dalam masyarakat, pria dipandang lebih tinggi derajatnya dan cenderung menjadi lebih mobil daripada wanita. Perbedaan jenis kelamin berpengaruh dalam mencapaii prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam masyarakat.
e. Faktor Pengaruh Sosialisasi yang Sangat Kuat
Sosialisasi yang sangat atau terlampau kuat dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses mobilitas sosial. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku. Misalnya, suatu masyarakat yang terisolasi terhadap pengaruh luar, maka masyarakat tersebut tertutup terhadap kemungkinan mobilitas.
f. Perbedaan Kepentingan
Adanya perbedaan kepentingan anatarindividu dalam suatu struktur organisasi menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu. Perbedaan kepentingan ini seringkali menimbulkan sikap saling menghambat dalam mencapai tujuannya.

G.   Cara Khusus untuk Menaikkan Status Sosial

Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut :
  • Perubahan standar hidup
Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status.
Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.
  • Perkawinan
Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan.
Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut.
  • Perubahan tempat tinggal
Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
  • Perubahan tingkah laku
Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya.
Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing.
Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.
Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden"
  • Bergabung Dengan Organisasi Tertentu
Untuk meningkatkan status sosialnya, seseorang bisa melibatkan diri dengan salah satu organisasi tertentu, misalnya kelompok hoby yang berkelas.

H.     Saluran-Saluran Mobilitas Sosial

·         Angkatan bersenjata
Angkatan bersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, ia akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Dia mungkin dapat diberikan pangkat/kedudukan yang lebih tinggi, walaupun berasal dari golongan masyarakat rendah.
  • Lembaga-lembaga keagamaan
Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang, misalnya yang berjasa dalam perkembangan Agama seperti ustad, pendeta, biksu dan lain lain.
  • Lembaga pendidikan
Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya.
  • Organisasi politik
Seperti angkatan bersenjata, organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat.
  • Organisasi ekonomi
Organisasi ekonomi (seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapat meningkatkan tingkat pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka semakin besar jabatannya. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. Karena pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Dan karena kekayaannya bertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat meningkat.
  • Organisasi keahlian
Orang yang rajin menulis dan menyumbangkan pengetahuan/ keahliannya kepada kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada pengguna biasa.
  • Perkawinan
Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya.

I.        Dampak Mobilitas Social

            Setiap mobilitas social akan  menimbulkan peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebaliknya akan menimbulkan konflik. Menurut Horton dan Hurt (1987), ada beberapa konsekuensi negative dari adanya mobilitas social vertical, antara lain sebagai berikut.

1.      Adanya kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.

2.      Timbulnya ketegangan dalam memplajari peran baru dari status jabatan yg meningkat

3.      Keretakan hubungan antar anggota kelompok premier , yg semula kerena seseorang berpindah ke status yg labih tinggi atau ke status yg lebih rendah.

Pada masyarakat terbuka (demokrasi), mobilitas mungkin banyak menguntungkan karena ada kesempatan bagi seseorang untuk mencapai jenjang status yang lebih tinggi.sedangkan pada masyarakat yang tertutup (system kasta) kemungkinan untuk naik ke status yang lebih tinggi tidak bisa (bahkan tidak ada) sehingga kebahagiaan ataupun kekecewaan tidak begitu dirasakan, sebab seseorang yang telah di lahirkan telah di tentukan statusnya.

            Adapun dampak social bagi masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negative antara lain sebagai berikut:           

v  Dampak negatif

Gejala naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap struktur sosial masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian mendatangkan berbagai reaksi. Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas.
  • Konflik Antarkelas
Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas. Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
  • Konflik Antarkelompok Sosial
Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku, dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik. Konflik yang menyangkut antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya karena benturan nilai dan kepentingan. Konflik ini dapat berupa:
§  Konflik antara kelompok social yang masih tradisional dengan kelompok social modern. Misalnya para kusir delman dan penarik becak yang lambat menyesuaikan diri dengan perubahan dapat menyebabkan konflik dengan para sopir mobil angkutan umum.
§  Proses suatu kelompok social tertentu terhadap kelompok social lain yang memiliki wewenang. Misalnya, demonstrasi mahasiswa yang menuntut kepada anggota dewan untuk memberantas KKN
  • Konflik Antargenerasi
Konflik yang terjadi kerana adanya benturan nilai dan kepentingan antara generasi yang satu dengan genesari yang lain. Yang  terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.
Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
  • Berkurangnya Solidaritas Sosial
Penyesuaian diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam kelas social yang baru merupakan langkah yang diambil oleh seseorang yang mengalami mobilitas, baik vertical maupun horizontal. Hal ini di lakukan agar mereka bisa diterima dalam kelas sosila yang baru dan mampu menjalankan fungsi-fungsinya. Keadaan inilah yang menyebabkan orang-orang yang pindah ke lapisan yang baru akan berkurang solidaritasnya terhadap kelas social yang lama. Sebagai contoh, orang yang kaya mendadak akan berusaha menyasuaikan diri dengan lapisan atas dalam gaya hidupnya agar bisa diterima dan dianggap sebagai bagian dari kelas social yang baru sehingga menjadi berkurang rasa kesetiakawanannya terhadap kelompok social asalnya.
  • Timbulnya gangguan psikologis
Mobilitas social dapat pula mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, antara lain sebagai berikut;
o    Menimbulkan ketakutan dan kegelisahan pada seseorang yang mengalami mobilitas menurun.
o    Adanya gangguan psikologis bila seseorang turun dari jabatannya (post power syndrome)
o    Mengalami frustasi atau putus asa dan malu bagi orang-orang yang ingin naik ke lapisan atas, tetapi tidak dapat mencapainya

v  Dampak positif

  • Mendorong Seseorang Untuk Lebih Maju
Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas.
Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.
·         Mempercepat Tingkat Perubahan Sosial Masyarakat ke Arah yang Lebih Baik
Dengan mobilitas, masyarakat  akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik menuju pencapaian tujuan yang di inginkan.
Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.
·         Meningkatkan Integrasi Sosial
     Terjadinya mobilitas social dalam suatu masyarakat dapat meningkatkan integrasi social.
Misalnya, seseorang yang melakukan mobilitas social vertical, ia akan menyesuaikan diri dengan gaya hidup, nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh kelompok orang dengan status social yang baru sehinggatercipta integritas social.