STRUKTUR
SOSIAL
I.
STRUKTUR SOSIAL
A. Pengertian Struktur Sosial
Ketika kita berbicara tentang
struktur sosial, maka sesungguhnya kita berbicara mengenai sesuatu yang saling
bergantung dan membentuk suatu pola tertentu yang terdiri atas pola perilaku
individu, kelompok, institusi, maupun masyarakat secara luas.
Struktur sosial adalah susunan
masyarakat secara hierarkis, baik vertikal maupun horizontal yang bersifat
dinamis dan selalu berubah seiring dengan perubahan yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat. Struktur sosial secara vertikal berbentuk stratifikasi
sosial, sedangkan secara horizontal berbentuk diferensiasi sosial.
Definisi struktur sosial menurut
pendapat para ahli antara lain:
1. Gerhard Lenski
Stuktur
sosial adalah struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan panjang
yang menandai sejarah.
2. Tarcott Parsons
Struktur
sosial adalah keterkaitan manusia
3. Kornblum
Struktur
sosial adalah pola perilaku individu dan kelompok yaitu pola berulang-ulang yng
menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.
4. Raymond Flirth
Struktur
sosial adalah suatu pergaulan manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang
terjadi dari banyak orang dan meliputi pula lembaga-lembaga dimana orang banyak
tersebut ambil bagian.
5. Soerjono Soekanto
Struktur
sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dalam
peranan-peranan sosial
6. E.R. Lanch
Struktur
sosial adalah cita-cita tentang distribusi kekuasaan di antara individu dan
kelompok sosial
B. Ciri-Ciri struktur Sosial
Secara
umum struktur sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Bersifat abstrak
2.
Terdapat dimensi vertical dan horizontal
3.
Sebagai landasan sebuah proses sosial suatu
masyarakat
4.
Merupakan bagian dari system pengaturan tata
kelakuan dan pola hubungan masyarakat
5.
Struktur sosial selalu berkembang dan berubah
C. Unsur-Unsur Struktur Sosial
Ø
Menurut Loomis
struktur sosial tersusun atas 10 unsur penting, yaitu:
1.
Adanya pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki
anggota masyarakat sebagai pedoman hidup
2.
Adanya perasaan solidaritas dari anggota-anggota
masyarakat
3.
Adanya tujuan dan cita-cita yang sama dari warga
masyarakat
4.
Adanya nilai-nilai dan norma sosial sebagai patokan
dan pedoman tingkah laku
5.
Adanya kedudukan dan peranan sosial yang mengarahkan
perilaku masyarakat
6.
Adanya kekuasaan dari anggota masyarakat yang
memegang kekuasaan
7.
Adanya tingkatan dalam system sosial yang ditentukan
oleh status dan peranan anggota masyarakat
8.
Adanya system sanksi terhadap pelanggaran norma
9.
Adanya sarana atau alat perlengkapan system sosial
10. Adanya system ketegangan, konflik
atau penyimpangan yang menyertai perbedaan kemampuan dan persepsi dari warga
masyarakat.
Ø
Menurut Soerjono
Soekanto unsur struktur sosial antara lain:
1.
Kelompok sosial
2.
Kebudayaan
3.
Lembaga sosial
4.
Stratifikasi sosial
5.
Kekuasaan dan wewenang
D.
Fungsi Struktur Sosial
- Sebagai
dasar untuk menanamkan suatu disiplin sosial. Fungsi struktur sosial disini berkaitan dengan aturan - aturan yang berasal dari suatu
kelompok social, diharapkan setiap anggota kelompok tersebut bersikap dan
bertindak sesuai dengan harapan – harapn kelompoknya.
- Sebagai
pengawas sosial. Dalam suatu struktur social terdapat berbagai perilaku
social yang umumnya tetap dan teratur. Fungsi struktur social disini
adalah sebagai pembatas agar setiap anggota masyarakat berperilaku sesuai
dengan norma dan nilai yang dianut masyarakat tersebut.
- Struktur
social merupakan karakteristik yang khas yang dimiliki suatu masyarakat
sehingga dapat memberikan warna yang berbeda dari masyarakat lain.
- Fungsi
Identitas. Sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh kelompok. Contoh :
kebudayaan Minangkabau menganut sistem matrilineal
- Fungsi
Kontrol : berfungsi untuk
mengontrol individu di dalam struktur tersebut. Contoh : kebudayaan Batak melarang perkawinan
antara pria dan wanita yang semarga.
- Fungsi
Pembelajaran : individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam
kelompoknya. Contoh : dalam struktur masyarakat muslim anak –anak
usia balita diajarkan kebiasaan mengucapkan salam jika bertemu orang lain
D. Bentuk – Bentuk Struktur Sosial
1.
Dilihat
dari sifatnya:
a.
Struktur
social kaku
Merupakan
bentuk struktur social yang tidak dapat dirubah atau sekurang – kurangnya
masyarakat menghadapi kesulitan besar untuk melakukan perpindahan status atau
kedudukannya. Struktur social yang demikian, biasanya terdapat pada masyarakat
yang menganut system kasta, dimana status seseorang sudah ditentukan sejak
lahir.
b.
Struktur
sosial luwes
Merupakan
kebalikan dari struktur social kaku. Pada struktur social luwes setiap anggota
masyarakatnya bebas bergerak melakukan perubahan. Biasanya terdapat pada masyarakat
yang memiliki stratifikasi social terbuka.
c.
Struktur
sosial formal
Merupakan
suatu bentuk struktur social yang diakui oleh pihak yang berwenang. Contohnya,
lembaga pemerintahan tingkat kabupaten yang terdiri dari seorang bupati, wakil
bupati, sekwilda, dan lain – lain.
d.
Struktur
sosial Informal
Merupakan
kebalikan dari struktur social formal, yaitu struktur social yang nyata ada dan
berfungsi tetapi tidak memiliki ketetapan hukum dan tidak diakui oleh pihak
berwenang. Contohnya, dalam sebuah masyarakat terdapat tokoh – tokoh kunci yang
memiliki wibawa dan kharisma, disegani dan dipatuhi oleh anggota masyarakatnya,
tetapi mereka tidak berada dalam suatu struktur yang formal.
2.
Dilihat
dari Identitas Keanggotaan Masyarakatnya:
a.
Struktur
sosial Homogen
Pada
struktur yang homogen memiliki latar belakang kesamaan identitas dari setiap
anggota masyarakatnya,seperti kesamaan ras, suku bangsa,ataupun agama.
Contohnya pada masyarakat suku Badui dalam, setiap anggota masyrakatnya
memiliki nenek moyang yang sama serta kepercayaan yang sama. Dalam masyarakat
yang memilliki struktur social yang homogen cenderung tidak menginikan
perubahan-perubahan.
b.
Struktur
sosial Heterogen
Struktur
social ini ditandai oleh keanekaragaman identitas anggota masyarakatnya.
Struktur social yang heterogen memiliki latar belakang ras, suku ataupun agama
yang berbeda dari para anggota masyarakaatnya. Contohnya, bangsa Indonesia
terdiri dari berbagai suku bangsa,ras dan agama yang berbeda.
3.
Dilihat
dari ketidaksamaan sosial:
a.
Diferensiasi
Sosial
Pengertian
Diferensiasi Sosial adalah perbedaan individu atau kelompok dalam masyarakat
yang tidak menunjukkan adanya suatu tingkatan (hierarki). Dengan kata lain, diferenasiasi
social merupakan klasifikasi terhadap perbedaan – perbedaan yang biasanya sama.
Artinya, tidak ada golongan dari pembagiann tersebut yang memiliki tingkatan
yang lebih tinggi ataupun lebih rendah.
Ø Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial:
1. Diferensiasi Ras
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Diferensiasi ras adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya.
Secara garis besar manusia terbagi ke dalam ras-ras sebagai berikut:
a. Menurut A..L. Krober
1) Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin).
2) Mongoloid
- Asiatik Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur).
- Malayan Mongoloid (Asia Tenggara dan Penduduk Asli Taiwan).
- American Mongoloid (Penduduk asli Amerika).
3) Kaukasoid
- Nordic (Erofa Utara, sekitar Laut Baltik).
- Alpine (Erofa Tengah dan Erofa Timur).
- Mediterania (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran).
- Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka).
4) Negroid
- African Negroid (Benua Afrika).
- Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina).
- Malanesian (Irian, Melanesia).
5) Ras-ras Khusus (tidak dapat diklasifikasikan kedalam empat ras pokok)
- Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan).
- Veddoid (pedalaman Sri Langka, Sulawesi Selatan).
- Polynesian (kepulauan Micronesia, dan Polinesia).
- Ainu ( di pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang).
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Diferensiasi ras adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya.
Secara garis besar manusia terbagi ke dalam ras-ras sebagai berikut:
a. Menurut A..L. Krober
1) Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin).
2) Mongoloid
- Asiatik Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur).
- Malayan Mongoloid (Asia Tenggara dan Penduduk Asli Taiwan).
- American Mongoloid (Penduduk asli Amerika).
3) Kaukasoid
- Nordic (Erofa Utara, sekitar Laut Baltik).
- Alpine (Erofa Tengah dan Erofa Timur).
- Mediterania (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran).
- Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka).
4) Negroid
- African Negroid (Benua Afrika).
- Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina).
- Malanesian (Irian, Melanesia).
5) Ras-ras Khusus (tidak dapat diklasifikasikan kedalam empat ras pokok)
- Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan).
- Veddoid (pedalaman Sri Langka, Sulawesi Selatan).
- Polynesian (kepulauan Micronesia, dan Polinesia).
- Ainu ( di pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang).
b. Menurut Ralph Linton
1) Mongoloid
Ciri-ciri:
- kulit kuning sampai sawo mateng
- rambut lurus
- bulu badan sedikit
- mata sipit (Asia Mongoloid)
· Mongoloid Asia : Sub Ras Tionghoa (Jepang, Vietnam, Taiwan)
Sub Ras Melayu (Malaysia, Filipina, Indonesia)
· Mongoloid Andian (orang Indian di Amerika)
2) Kaukasoid
Ciri-ciri:
- hidung mancung
- kulit putih
- rambut pirang sampai coklat kepirang kehitaman
- kelopak mata lurus
· Ras Nordic
· Alpin Mediteran
· Armenoid
· India
3) Negroid
Ciri-ciri:
- rambut keriting
- kulit hitam
- bibir tebal
- kelopak mata lurus
· Sub Ras Negroid
· Nilitz
· Negro Rimba
· Negro Oseanis
· Hetentot Boysesman
1) Mongoloid
Ciri-ciri:
- kulit kuning sampai sawo mateng
- rambut lurus
- bulu badan sedikit
- mata sipit (Asia Mongoloid)
· Mongoloid Asia : Sub Ras Tionghoa (Jepang, Vietnam, Taiwan)
Sub Ras Melayu (Malaysia, Filipina, Indonesia)
· Mongoloid Andian (orang Indian di Amerika)
2) Kaukasoid
Ciri-ciri:
- hidung mancung
- kulit putih
- rambut pirang sampai coklat kepirang kehitaman
- kelopak mata lurus
· Ras Nordic
· Alpin Mediteran
· Armenoid
· India
3) Negroid
Ciri-ciri:
- rambut keriting
- kulit hitam
- bibir tebal
- kelopak mata lurus
· Sub Ras Negroid
· Nilitz
· Negro Rimba
· Negro Oseanis
· Hetentot Boysesman
Indonesia didiami oleh bermacam-macam Sub Ras, antara lain:
· Negrito, suku Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
· Veddoid, suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatra Selatan, Toala dan Tomuna di Sulawesi.
· Neo Melanosoid, kepulauan Kei dan Aru.
· Melayu:
- Melayu Tua (Proto Melayu), orang Batak, Toraja dan Dayak.
- Melayu Muda (Deutro Melayu), orang Aceh, Minang, Bugis/Makasar.
· Negrito, suku Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
· Veddoid, suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatra Selatan, Toala dan Tomuna di Sulawesi.
· Neo Melanosoid, kepulauan Kei dan Aru.
· Melayu:
- Melayu Tua (Proto Melayu), orang Batak, Toraja dan Dayak.
- Melayu Muda (Deutro Melayu), orang Aceh, Minang, Bugis/Makasar.
2.
Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)
Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis.
Diferensiasi suku bangsa merupakan penggolongan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras, namun suku bangsa memiliki kesamaan budaya sebagai berikut:
- Ciri fisik
- Bahasa daerah
- Kesenian
- Adat-istiadat
Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis.
Diferensiasi suku bangsa merupakan penggolongan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras, namun suku bangsa memiliki kesamaan budaya sebagai berikut:
- Ciri fisik
- Bahasa daerah
- Kesenian
- Adat-istiadat
Suku bangsa yang
ada di Indonesia yaitu sebagai berikut:
· Pulau Sumatra : Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkuku, Jambi, Palembang, Melayu dan sebagainya.
· Pulau Jawa : Sunda, Jawa, Tengger dan sebagainya.
· Pulau Kalimantan : Dayak, Banjar dan sebagainya.
· Pulau Sulawesi : Bugis, Toraja, Minahasa, Toil-Toli, Makassar, Bolaang-mangondow, Gorontalo dan sebagainya.
· Kepulauan Nusa Tenggara : Bali, Bima Lombok, Flores, Timoer, Rote.
· Kepulauan Maluku dan Irian : Ternate, Tidore, Dani Asmat.
· Pulau Sumatra : Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkuku, Jambi, Palembang, Melayu dan sebagainya.
· Pulau Jawa : Sunda, Jawa, Tengger dan sebagainya.
· Pulau Kalimantan : Dayak, Banjar dan sebagainya.
· Pulau Sulawesi : Bugis, Toraja, Minahasa, Toil-Toli, Makassar, Bolaang-mangondow, Gorontalo dan sebagainya.
· Kepulauan Nusa Tenggara : Bali, Bima Lombok, Flores, Timoer, Rote.
· Kepulauan Maluku dan Irian : Ternate, Tidore, Dani Asmat.
3.
Diferensiasi Klen (Clan)
Klen / kerabat luas / keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adapt (tradisi). Klen adalah system social berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi di masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) atau ibu (matrilineal).
· Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) terdapat pada:
- Masyarakat Batak (sebutan Marga)
- Marga Batak Karo : Ginting, Sembiring, Singarimbun, Barus, Tambun, Paranginangin.
- Marga Batak Toba : Nababan, Simatupang, Siregar.
- Marga Batak Mandailing : Harahap, Rangkuti, Nasution, Batubara, Daulay.
- Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) antara lain : Mandagi, Lasut, Tombokan, Pangkarego, Paat, Supit.
- Masyrakat Ambon (klennya disebut Fam) antara lain : Pattinasarani, Latuconsina, Lotul, Manuhutu, Goeslaw.
- Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De-Rosari, Paeira.
· Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat :
- Minangkabau, klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampung-kampung, nama klennya antara lain : Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai dan sebagainya.
- Masyarakat Flores, yaitu suku Ngadu juga menggunakan system matrilineal.
Klen / kerabat luas / keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adapt (tradisi). Klen adalah system social berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi di masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) atau ibu (matrilineal).
· Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) terdapat pada:
- Masyarakat Batak (sebutan Marga)
- Marga Batak Karo : Ginting, Sembiring, Singarimbun, Barus, Tambun, Paranginangin.
- Marga Batak Toba : Nababan, Simatupang, Siregar.
- Marga Batak Mandailing : Harahap, Rangkuti, Nasution, Batubara, Daulay.
- Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) antara lain : Mandagi, Lasut, Tombokan, Pangkarego, Paat, Supit.
- Masyrakat Ambon (klennya disebut Fam) antara lain : Pattinasarani, Latuconsina, Lotul, Manuhutu, Goeslaw.
- Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De-Rosari, Paeira.
· Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat :
- Minangkabau, klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampung-kampung, nama klennya antara lain : Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai dan sebagainya.
- Masyarakat Flores, yaitu suku Ngadu juga menggunakan system matrilineal.
4.
Diferensiasi Agama
Diferensiasi agama adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.
Diferensiasi agama adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.
a. Komponen-komponen Agama
· Emosi keagamaan
· System keyakinan
· Upacara keagamaan
· Tempat ibadah
· Umat
b. Agama dan Masyarakat
Dalam perkembangan agama mempengaruhi masyarakat begitu juga masyarakat mempengaruhi agama.
· Emosi keagamaan
· System keyakinan
· Upacara keagamaan
· Tempat ibadah
· Umat
b. Agama dan Masyarakat
Dalam perkembangan agama mempengaruhi masyarakat begitu juga masyarakat mempengaruhi agama.
5.
Diferensiasi Profesi (pekerjaan)
Diferensiasi profesi adalah pengelompokan masyarakat atas dasar jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan keterampilan khusus. Misal profesi guru memerlukan keterampilan khusus, seperti: pandai berbicara, bisa membimbing, sabar dan sebagainya.
Berdasarkan perbedaan profesi orang dimasyarakat berprofesi: guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negri, tentara dan sebagainya.
Diferensiasi profesi adalah pengelompokan masyarakat atas dasar jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan keterampilan khusus. Misal profesi guru memerlukan keterampilan khusus, seperti: pandai berbicara, bisa membimbing, sabar dan sebagainya.
Berdasarkan perbedaan profesi orang dimasyarakat berprofesi: guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negri, tentara dan sebagainya.
6. Diferensiasi Jenis
Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu maka ada kelompok laki-laki/pria dan kelompok wanita/perempuan.
Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu maka ada kelompok laki-laki/pria dan kelompok wanita/perempuan.
7. Diferensiasi Asal
Daerah
Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:
- masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa.
- Masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.
Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat ditemukan dalam hal-hal berikut:
- perilaku
- tutur kata
- cara berpakaian
- cara menghias rumah dan sebagainya.
Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:
- masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa.
- Masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.
Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat ditemukan dalam hal-hal berikut:
- perilaku
- tutur kata
- cara berpakaian
- cara menghias rumah dan sebagainya.
Ø Pengaruh Deferensiasi Sosial
Kemajemukan
social atau diferensiasi social dalam masyarakat akan membawa pengaruh, baik
yang bersifat positif maupun yang bersifat negative. Di antaranya adalah paham
primordialisme, entrosentrisme, dan sekratarian (politik aliran).
a. Primordialisme
Primordialisme
adalah suatu paham yang menganggap bahwa kelompoknya lebih baik dibanding
dengan kelompok lain. Dalam masyarakat yang majemuk paham primordialisme hampir
selalu terjadi. Hal ini karena adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh
individu dalam suatu kelompok social, serta adanya keinginan untuk memelihara
keutuhan kelompoknya.
Contoh
primordialisme dalam masyarakat adalah adanya praktik nepotisme dalam merekrut
atau menempatkan orang-orang yang berasal dari daerah atau suku bangasa yang
sama dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
Segi
positif paham ini adalah dapat mengikat dan memperkuat ikatan suatu kelompok
terutama dalam menghadapi ancaman dari luar. Sedangkan segi negatifnya adalah
membangkitkan prasangka dan permusuhan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham
atau tidak sama dengan kelompoknya. Hal tersebut rawan terhadap munculnya
konflik social.
b. Etnosentrisme
Etnosentrisme
adalah suatu sikap atau paham yang menganggap budaya masyarakatnya lebih tinggi
dibanding dengan budaya masyarakat yang lain. Contohnya , aliran
Nasionalis-Sosialis (Nazi) yang beranggapan ras Arya-lah yang paling unggul
untuk menguasai dunia. Seperti halnya primordialisme, etnosentrisme dapat
menjadikan ikatan kelompoknya semakin kuat, bahkan dapat menimbulkan semangat
kebangsaan atau semangat patriotisme. Namun, disisi lain etnosentrisme dapat
menimbulkan konflik antar golongan atau kebudayaan.
c. Sektarian
(politik aliran)
Sektarian
atau politik aliran merupakan keadaan dimana sebuah kelompok atau oraganisasi
tertentu dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa (ormas), baik formal maupun
informal yang menjadi pengikutnya. Biasanya dalam politik aliran ada pengikat
diantara anggotanya berdasarkan persamaan ideology. Misalnya, parpol PKB
dikelilingi oleh ormas-ormas NU. Politik aliran dalam masyarakat yang majemuk
rawan terhadap terjadinya konflik antara kelompok-kelopmok yang ada.
b. Stratifikasi Sosial
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas menjelaskan bahwa pelapisan sosial
atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau
pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).Definisi sistematik antara lain
dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa
pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya
adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan
ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand,
yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran
akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.
Pengertian Stratifikasi Sosial menurut Sofa adalah sebagai berikut :Stratifikasi
sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota
masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota
masyarakat ada yang didapat dengan suatu usaha (achieved status) dan ada yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status). Stratifikasi berasal
dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai
bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk
tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat
tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta
dalam batas-batas tertentu.
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau
dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut:
1. Ukuran
kekuasaan dan wewenang.
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati
lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang
bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab
orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang
lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat
mendatangkan kekayaan.
2.
Ukuran kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran
penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan
paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan
sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan
digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat
antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya,
cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
3.
Ukuran
kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan.
Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari
sistem pelapisan sosial masyarakatnya.Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat
tradisional, biasanya mereka sangat
menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan
berbudi luhur.
4.
Ukuran ilmu pengetahuan.Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh
anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan
menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang
bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam
gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang,
misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional
seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini
jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu
yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang
tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli
skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya
Ø Jenis-Jenis/Macam-Macam
Status Sosial & Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat
1. Ascribed
Status
Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
2. Achieved
Status
Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
3. Assigned
Status
Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.
Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.
Ø
Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Stratifikasi
tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut
tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih
rendah.
Contoh
stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta
di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak
keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat /
bangsawan darah biru.
2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi
sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya
dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang
lain.
Misalnya seperti tingkat pendidikan,
kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan
bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi
karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan
sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia
mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi
Ø
Pengaruh
Stratifikasi Sosial
Konsekuensi
stratifikasi social menyebabkan adanya perbedaan sikap dari orang-orang yang
berada dalam strata sosial tertentu berdasarkan kekuasaan, privilese, dan
prestise. Perbedaan sikap tersebut tercernin dari gaya hidup seseorang sesuai
dengan strata sosialnya. Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara
berpakaian, tempat tinggal, cara bicara, pemilihan tempat pandidikan, hobi, dan
tempat rekreasi.
II.
KONFLIK
A. Pengertian Konflik
Beberapa
ahli mengemukakan pendapatnya mengenai konflik, diantaranya sebagai berikut.
- Menurut
Berstein (1965), konflik
merupakan suatu pertentangan, perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik
mempunyai potensi memberikan pengaruh positif dan adapula yang negative
didallam interaksi manusia.
- Menurut
Dr. Robert M.Z. Lawang, konflik
itu adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana
tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan,
tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
- Menurut
Drs. Ariyono Suyono, konflik
adalah proses atau keadaan dimana dua pihak berusaha menggagalkan tujuan
tercapainya masing – masing yang disebabkan adanya perbedaan pendapat,
nilai – nilai ataupun tuntutan dari masing – masing pihak.
- Menurut
James W. Vander Zanden, konflik
diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas
kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang saling
berhadapan bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan
mereka.
- Menurut
Soerjono Soekanto, konflik
adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia
berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang
disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.
B. Faktor – faktor penyebab konflik
Konflik
dilatarbelakangi oleh perbedaan – perbedaan sosial diantara individu yang
terlibat dalam suatu interaksi sosial. Faktor yang menyebabkan terjadinya
konflik di dalam masyarakat antara lain:
1.
Perbedaan
antar individu
Perbedaan
yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan
harga diri, kebanggaan, dan identitas seseorang. Misalnya dalam sebuah ruangan
kantor ada karyawan yang terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik dengan
suara keras, tetapi karyawan lain lebih menyukai bekerja dengan suasana yang
tenang, sehingga kebisingan merupakan hal yang mengganggu konsentrasi dalam
bekerja. Perbedaan perasaan dan kebiasaan tersebut menimbulkan rasa benci dan
amarah sebagai awal timbulnya konflik.
2.
Perbedaan
Latar belakang Kebudayaan
Kepribadian
seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat . Tidak semua
masyarakat memiliki nilai – nilai dan norma – norma sosial yang sama. Apa yang
dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu dianggap baik oleh masyarakat
lain. Misalnya, seseorang yang dibesarkan dalam suatu lingkungann keluarga dan
masyarakat yang menjunjung tinggi nilai – nilai tradisional bertemu dengan
seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang
menjunjung tinggi nilai – nilai modern, maka akan terdapat perbedaan –
perbedaan nilai yang dianut oleh kedua belah pihak sehingga menimbulkan
konflik.
3.
Perbedaan Kepentingan
Perbedaan
kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Misalnya, seorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya suatu
produksi sehingga dengan terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun,
pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak – haknya diabaikan sehingga
perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan konflik.
4.
Perubahan
Sosial
Konflik
dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau
masyarakat dengan kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan tersebut. Jadi,
secara umum, suatu konflik dapat terjadi apabila seseorang atau kelompok
terhalang upayanya dalam mencapai tujuan. Hal ini karena adanya perbedaan paham
terhadap tujuan itu sendiri, terhadap nilai – nilai sosial dan norma – norma
sosial, maupun terhadap tindakan – tindakan dalam masyarakat. Terlebih lagi
apabila sanksi bagi pelanggaran atas nilai dan norma tidak dijalankan dengan
adil, maka konflik dapt berubah menjadi kekerasan.
C.
Bentuk
– bentuk Konflik
a.
Konflik
Berdasarkan Sifatnya
- Konflik
Destruktif
Merupakan
konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam
dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada konflik ini terjadi
bentrokan – bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda.
Contohnya, konflik Ambon, Poso, Kupang, dan Sambas.
- Konflik
Konstruktif
Merupakan
konflik yang bersifat fungsional, komflik ini muncul karena adanya perbedaan
pendapat dari kelompok – kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik
ini akan menghasilkan suatu consensus dari perbedaan pendapat tersebut dan
menghasilkan suatu perbaikan. Misalnya, perbedaan pendapat dalam sebuah
organisasi.
b. Berdasarkan
Posisi Pelaku yang Berkonflik
- Konflik
Vertikal merupakan konflilk antar komponen masyarakat didalam satu
struktur yang memiliki hierarki. Contohnya, konflik yang terjadi antara
atasan dengan bawahan dalam sebuah kantor.
- Konflik
Horizontal merupan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang
memiliki kedudukan yang relative sama. Contohnya, konflik yang terjadi
antarorganisasi massa.
- Konflik
Diagonal merupakan konflik yang terjadi karena adanya terjadi
ketidakadilan alokasi sumber daya keseluruh organisasi sehingga
menimbulkan pertentangan yang ekstrim. Contohnya, konflik Aceh.
c. Berdasarkan
Sifat Pelaku yang Berkonflik
- Konflik
terbuka, merupakan konflik yang diketahui oleh semua pihak. Contohnya,
konflik Palestina-Israil.
- Konflik
tertutup, merupakan konflik yang hanya dikrtahui oleh oaring-orang atau
kelompok yang terlibat konflik.
d. Berdasarkan
Konsentrasi Aktivitas Manusia di Dalam Masyarakat
Konflik dibedakan menjadi konflik
sosial, konflik politik, konflik ekonomi, konflik budaya dan konflik ideologi.
1.
Konflik
sosial merupakan konflik yang terjadi
akibat adanya perbedaan kepentungan sosial dari pihak yang berkonflik. Konflik
sosial ini dapat dibedakan menjadi konflik sosial vertikan dan konflik sosial
horizontal. Konflik ini seringkali terjadi karena adanya provokasi dari
orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
a)
Konflik
sosial vertical, yaitu konflik yang terjadi antara masyarakat dan Negara.
Contohnya, kemarahan massa yang berujung pada peristiwa Trisakti (12 Mei 1998).
b)
Konflik
sosoial horizontal, yaitu konflik yang terjadi antaretnis, suku, golongan, atau
antarkelompok masyarakat. Contohnya, konflik yang terjadi di Ambon.
2.
Konflik
politik merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang
berkaitan dengan kekuasaan. Contohnya, konflik yang terjadi antar pengikut
suatu parpol.
3.
Konflik
ekonomi merupakan konflik akibat adanya perebutan sumber daya ekonomi dari
pihak yang berkonflik. Contohnya, konflik antar pengusaha ketika melakukan
tender.
4.
Konflik
budaya merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan
budaya dari pihak yang berkonflik.contohnya,adanya perbedaan pendapat antar
kelompok dalam menafsirkan RUU antipornografi dan pornoaksi.
5.
Konflik
ideologi merupakan konflik akibat adanya perbedaan paham yang diyakini oleh
seseorang atau sekelompok orang.contohnya,konflik yang terjadi pada saat
G-30-S/PKI
e. Berdasarkan Cara Pngelolahannya
Berdasarkan cara pengelolaannya ,konflik dapat
dibedakan menjadi konflik inter individu, konflik antar individu , dan konflik
antar kelompok sosial.
1.
Konflik inter individu merupakan tipe yang
paling erat kaitannya dengan emosi individu hingga tingkat keresahan yang
paling tinggi .Konflik dapat muncul dari dua penyebab , yaitu karena kelebihan
beban (role overloads) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan
peranann (personrole incompatibilities). Dalam kondisi pertama seseorang
mendapat beban berlebih akibat status (kedudukan) yang dimiliki , sedang dalam
kondisi yang kedua seseorang memang tidak memiliki keesuaian yang cukup untuk
melaksanakan peranan sesuai dengan statusnya . Prespektif konflik interindividu
mencakup tiga macam situasi alternative berikut:
b.
konflik
pendekatan –pendekatan, seseorang harus memilih di antara dua buah alternative
behavior yang sama –sama
c.
Konflik
menghindari – menghindari, seseorang dipaksa untuk memilih antara tujuan-tujuan
yang sama-sama tidak atraktif dan tidak diinginkan.
d.
Konflik
pendekatan – menghindari multiple, seseorang menghadapi kemungkinan pilihan
kombinasi multiple, dari
pendekatan-menghindari.
2.
Konfik antarindividu merupakan konflik yang terjadi antara seseorang dengan
satu orang atau lebih,sifatnya kadang-kadang substantif menyangkut perbedaan
gagasan, pendapat, kepentingan, atau bersifat emosional, menyangkut perbedaan
selera, dan perasaan likel/dislike(suka/tidak suka). Setiap orang pernah
mengalami situasi konflik semacam ini, ia banyak mewarnai tipe-tipe konflik
kelompok maupun konflik organisasi. Karena konflik tipe ini berbentuk
konfrontasi dengan seseorang atau lebih,maka konflik antarindividu ini juga
merupakan target yang perlu dikelola secara baik
3.
Konflik antarkelompok merupakan konflik yang banyak dijumpai dalam kenyataan
hidup manusia sebagai makhluk sosial,karena mereka hidup dalam
kelompok-kelompok.Contohnya, konflik antarkampung.
D.
Dampak adanya konflik
Dalam
kehidupan masyarakat majemuk sering terjadi pertentangan antara satu aspek
dengan aspek lainnya.Sumber potensi konflik yang rentan terjadi dalam kehidupan
masyarakat Indonesia adalaah masalah agama,ras,dan suku bangsa.Setiap konflik
yang terjadi dalam masyarakat akn membawa dampak,baik dampak secara langsung
maupun dampak tidak langsung.
a. Dampak Negatif
konflik
1.
Menimbulkan
keretakan hubungan antara individu atau kelompok dengan individu atau kelompok
lainnya.
- Adanya perubahan kepribadian
seseorang,seperti selalu memunculkan rasa curiga,rasa benci,dan akhirnya
dapat berubah menjadi tindakan kekerasan.
- Hancurnya harta benda dan korban
jiwa,jika konflik tersebut berubah menjadi tindakan kekerasan.
- Kemiskinan bertambah akibat jika
kondusifnya keamanan.
- Lumpuhnya roda perekonomian jika
suatu kondisi berlanjut menjadi tindakan kekerasan.
- Pendidikan formal dan informal
terhambat karena rusaknya sarana dan prasarana pendidikan.
b. Dampak Positif adanya konflik
1.
Meningkatkan
solidaritas sesama anggota kelompok (in group solidarity)
2.
Munculnya
pribadi-pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi konflik.
3.
Membantu
menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
4.
Munculnya
kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang. Misalnya,
adanya kesadaran dari pihak-pihak yang berkonflik untuk bersatu kembali, karena
dirasakan bahwa konflik yang berlarut tidak membawa keuntungan bagi kedua belah
pihak.
E. Konflik dan
Kekerasan
Dalam
banyak definisi, ancaman dan kekerasan selalu dikaitkan dengan konflik,
kekerasan merupakan alat dari konflik untuk mencapai tujuan. Dapat juga dikatan
bahwa kekerasan merupakan proses akhir dari konflik.
Namun, sesungguhnya konflik berbeda dengan
kekerasan. Menurut Prof. DR. Winardi, S.E., konflik berarti
adanya oposisi atau pertentangan pendapat antar orang-orang, kelompok-kelompok,
atau oraganisasi-organisasi berkaitan dengan perbedaan-perbedaan pendapat,
keyakinan-keyakinan, ide-ide, maupun kepentingan-kepentingan. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia (1988), koflik adalah percekcokan, perselisihan,
pertentangann, ketegangan diantara orang-perorangan atau kelompok. Kekerasan
berarti perbuatan seorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya
orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Konflik
sering kali berubah menjadi kekerasan terutama apabila upaya-upaya berkaitan
dengan pengelolaan konflik tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh pihak
yang berkaitan. Demikian pula bila upaya memperoleh keadian di pengadidan
ternyata gagal.
Dari tujuan makro, pakar studi konflik
dari universitas Oxford, France Stewart, menyebut empat kategori Negara
yang berpotensi konflik yang kemudian berlanjut ke tindak kekerasan: Negara
dengan pendapatan dan pembangunan manusianya rendah; Negara yang pernah
terlibat dalam konflik serius dalam 30 tahun terakhir; Negara dengan perbedaan
tingkat horizontal yang tinggi; dan Negara yang rezim politiknya berada dalam
transisi rezim refresif menuju rezim yang lebih demokratis. Dalam kenyataan
hidup manusia, antara konflik dengan kekerasan dapat dibedakan, namun acap kali
dapat dipisahkan secara eksplesit.
- Teori-Teori
kekerasan
Menurut
Thomas Santoso, teori kekerasan dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut:
ØTeori
kekerasan sebagai tindakan aktor (individu) atau kelompok.
Para
ahli teori kekerasan kolektif ini berpendapat bahwa manusia melakukan kekerasan
karena adnaya faktor bawaan, seperti kelainan genetic atau fisiologis. Menurut
para ahli teori ini agresifitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya
kekerasan, seperti kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh orang tua
terhadap anaknya, ataupun dilakukan oleh pasangan suami istri. Wujud kekrasan
yang dilakukan oleh individu tersebut dapat berupa pemukulan, penganiayaan,
ataupun kekerasan verbal berupa kata-kata kasar yang merendahkan martabat
seseorang. Sedangkan kekerasan kolektif merupakan kekerasan yang dilakukan oleh
beberapa orang atau sekelompok orang (crowd). Munculnya tindak kekerasan
kolektif ini biasanya karena adanya benturan identitas suatu kelompok dengan
kelompok lain, seperti identitas berdasarkan agama atau etnik. Contohnya,
kekerasan yang terjadi di Poso dan Revolusi eropa pada abad – 19.
Ø
Teori
Kekerasan Struktural
Menurut
teori ini kekerasan structural bukan berasal dari orang tertentu, melainkan
terbentuk dalam suatu system sosial.
Para ahli teori ini, memandang kekerasan tidak hanya dilakukan oleh aktor
(individu) atau kelompok semata, tetapi juga dipengaruhi oleh suatu struktur,
seperti aparatur Negara.
Pada
umumnya, bila seseorang atau kelompok memiliki harta kekayaan berlimpah, maka
akan selalu ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan kecuali ada hambatan
yang jelas dan tegas. Sebagai contoh kekerasan structural adalah terjadinya
kasus Timor – Timur, kasus Tanjung Priok, seputar kerusuhan Mei 1998, dan lain
– lain.
Ø
Teori
Kekerasan sebagai kaitan antara aktor dan struktur
Menurut
pendapat para ahli teori ini, konflik merupakan sesuatu yang telah ditentukan
sehingga bersifat endemic bagi kehidupan
masyarakat. Menurut Thomas Santoso istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku baik terbuka
(overt) atau tertutup (covert), dan yang bersifat menyerang (offensive) atau
bertahan (defensive), yang disertai penggunaan kekuatan pada orang lain. Oleh
karena itu ada 4 jenis kekerasan yang dapat di identifikasi :
- kekerasan Terbuka (kekerasan yang dapat dilihat,
seperti perkelahian)
- Kekerasan Tertutup (kekerasan tersembunyi atau
secara tidak langsung dilakukan, seperti pengancaman)
- Kekerasan Agresif (kekerasan yang dilakukan unutk
mendapatkan sesuatu, seperti Penjambretan)
- Kekerasan Defensif (kekerasan untuk melindungi
diri)
F. Cara Pengendalian Konflik dan
Kekerasan
Ø
Pengendalian
Secara Umum
1.
Konsiliasi
Merupakan
bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembaga – lembaga
tertentu yang dapat memberikan keputusan dengan adil. Contoh pengendalian
konflik ini seperti, melalui Lembaga Perwakilan Rakyat.
2.
Arbitrasi
Merupakan
bentuk pengendalian konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak
yang berkonflik menyetujuinya. Keputusan – keputusan yang diambil pihak ketiga
harus dipatuhi oleh pihak – pihak yang berkonflik.
3.
Mediasi
Merupakan
bentuk pengendalian konflik sosial dimana pihak – pihak yang berkonflik sepakat
menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Namun berbeda dengan arbitrasi,
keputusan – keputusan pihak ketiga tidak mengikuti pihak manapun.
4.
Ajudication
Merupakan cara
penyelesaian konflik melalui pengadilan.
Ø
Pengendalian
Menggunakan Manajemen Konflik
Disamping
cara – cara tersebut diatas, gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam
menghadapi situasi konflik dapat dilaksanakan sehubungan dengan tekanan
relative atas apa yang dinamakan Cooperativeness dan Assertiveness.
Cooperativeness
adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok lain.
Assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan minat individu/kelompok
itu sendiri.
III.
MOBILITAS SOSIAL
A.
Pengertian
Mobilitas Sosial
Mobilitas
berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak
bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.Kata sosial yang ada pada istilah
mobilitas sosial untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna gerak
yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok social. Jadi
Mobilitas Sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari
lapisan yang satu ke lapisan yang lain.
Pengertian Mobilitas Menurut Para Ahli
1. Menurut Soerjono Sokanto
Mobilitas sosial adalah suatu gerak
dalam struktur social, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu
kelompok sosial.
Mobilitas Sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau
gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.
Mobilitas Sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang
mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individudalam
kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.
Dalam
dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin
bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan
mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila
tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka
tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang
lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang
akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial
tertutup.
Mobilitas
sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan
untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup
kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat
yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat
yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah
untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat
pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau
keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan
demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih
tinggi.
B. Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
Dilihat
dari arah pergerakannya, terdapat dua bentuk mobilitas sosial, yaitu mobilitas
vertical dan mobilitas horisantal.
a.
Mobilitas
Vertical
Mobilitas Vertical adalah perpindahan
status sosial yang dialami seseorang atu sekelompok orang pada lapisan sosial
yang berbeda. Dalam mobilitas vertical terjadi perpindahan status tidak
sederajat, yaitu bergerak niak ataupun turun dari strata satu ke strata yang
lain.
Mobilitas Vertical dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Mobilitas
Vertical Ke Atas (Social Climbing)
Social
Climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan status atau
kedudukan seseorang. Mobilitas vertikal
ke atas atau social climbing mempunyai dua bentuk yang utama, yaitu:
·
Masuk ke dalam kedudukan yang
lebih tinggi.
Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan
yang lebih tinggi, di mana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya.
Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. Karena memenuhi
persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah.
·
Membentuk kelompok baru. Pembentukan suatu kelompok baru
memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya, misalnya dengan mengangkat
diri menjadi ketua organisasi.
Contoh: Pembentukan organisasi baru
memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut,
sehingga status sosialnya naik.
v Penyebab
Mobilitas Vertical Ke Atas (Social
Climbing)
-
Melakukan peningkatan
prestasi kerja. Misalnya, seorang karyawn yang memiliki reputasi yang baik dan
selalu memilki ide-ide cemerlang untuk memajukan perusahaan, maka ia akan
dipromosikan untuk menduduki suatu jabatan yang lebih tinggi.
-
Menggantikan kedudukan yang
kosong akibat adanya proses peralihan generasi.
2.
Mobilitas Vertical Ke Bawah ( Social Sinking )
Sosial
Sinking merupakan proses penurunan status atau kedudukan sesorang. Proses
Social Sinking seringkali menimbulkan gejolak spikis bagi seseorang karena ada
perubahan pada hak dan kewajiban. Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua
bentuk utama.
·
Turunnya kedudukan. Kedudukan individu turun ke
kedudukan yang derajatnya lebih rendah.
Contoh: seorang prajurit dipecat karena
melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya.
·
Turunnya derajat kelompok. Derajat sekelompok individu menjadi
turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan.
Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B. akibatnya, status sosial tim
pun turun.
v Penyebab
Mobilitas Vertical Ke Bawah (Social
Sinking)
-
Berhalangan tetap atau
sementara, misalnya sakit atau cacat tubuh.
-
Memasuki masa pensiun.
-
Berbuat kesalahan fatal
yang menyebabkan diturunkan atau dipecat dari jabatannya.
b. Mobilitas Horizontal
Mobilitas
horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang
dalam lapisan sosial yang sama. Dalam mobilitas horizontal terjadi perpindahan
yang sederajat, tidak terjadi perubahan derajat kedudukan seseorang atau
sekelompok orang. Mobilitas sosial horizontal memiliki dua bentuk , yaitu:
1. Mobilitas
Antar Wilayah
Mobilitas antarwilayah merupakan
proses perpindahan status seseorang atau sekelompok orang dari satu wilayah ke
wilayah yang lain. Hal ini terjadi karena adanya perubahan dalam suatu struktur
masyarakat yang disebabkan oleh factor ideologi, politik, ekonomi, maupun
sosial budaya. Misalnya, seorang buruh tani pada saat musim paceklik pindah
profesi menjadi buruh bangunan, yang artinya petani tersebut terpaksa pindah
pekerjaan karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan di desanya.
2. Mobilitas
Antargenerasi
Mobilitas Antargenerasi adalah perpindahan atau kedudukan
yang terjadi dalam dua generasi atau lebih. Mobilitas Antargenerasi dapat di
bedakan menjadi dua, yaitu :
a) Mobilitas Intergenerasi
Mobilitas Intergenerasi adalah perpindahan
status atau kedudukan yang terjadi di antara beberapa generasi. Mobilitas
intergenerasi terdiri dari dua bentuk. Yaitu Mobilitas Intergenerasi yang naik.
Contoh: kakeknya sebagai petani, bapaknya sebagai guru, sedangkan anaknya
sebagai pengusaha. Dan yang ke dua adalah Mobilitas intergenerasi yang turan.
Contohnya: kakeknya sebagai bupati, bapaknya sebagai camat, sedangkan anaknya
sebagai kepala desa.
b) Mobilitas Intragenerasi
Mobilitas Intragenerasi adalah perpindahan
status social yang terjadi dalam satu generasi yang sama. Dalam mobilitas ini
bisa juga terjadi gerak naik dan turun. Contoh yang naik adalah: ayahnya
menjadi guru, sedangkan anaknya sebagai kepala sekolah. Dan contah yang turun
adalah: kakaknya sebagai direksi dan adiknya sebagai karyawan.
C. Hubungan Struktur Sosial Dan Mobilitas Sosial
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa
mobilitas social merupakan perpindahan status atau kedudukan dari satu lapisan
ke lapisan yang lain. Perpindahan tersebut terjadi dalam suatu struktur sosial
yang berdimensi vertical. Artinya, mudah atau tidaknya seseorang melakukan
mobilitas social tergantung pada struktur social masyarakatnya. Apabila
masyarakat tersebut memiliki struktur social yang kaku, maka kemungkinan
terjadinyamobilitas social sangat tipis, dan hal ini terjadi pada masyarakat
yang menganut sistem stratifikasi social tertutup. Sedangkan pada masyarakat
dengan struktur social yang luwes,terjadinya mobilitas social sangat besar, hal
ini terjadi pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi social terbuka.
Oleh sebab itu mobilitas social sangat erat hubungannya dengan stratifikasi
social, terutama pada mobilitas social yang bersifat vertical.
v
Mobilitas
Sosial Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Terbuka
Masyarakat yang memiliki system
stratifikasi social terbuka member kesempatan pada para anggotanya untuk
melakukan mobilitas social vertical. Mobilitas social vertical yang terjadi
dapat berupa social climbing ataupun social sinking. Hal ini terjadi karena
dalam masyarakat yang berstratifikasi social terbuka komunikasi antar anggota
masyarakat dari berbagai strata bersifat lebih terbuka serta proses komunikasi
dan perubahan berjalan lebih lancer.
Dan
dalam system stratifikasi social yang terbuka memunkinkan setiap anggota
masyarakat bersifat aktif dan kreatif dalam melakukan perubahan-perubahan untuk
meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Mobilitas social dapat bergerak naik atau
turun dari datu strata ke strata yang lain. Ada
beberapa prinsip umum dalam mobilitas social vertical. Prinsip umum
tersrbut adalah sebagai berikut:
- Tidak ada satupun masyarakat yang
mutlak tertutup terhadap mobilitas sosial vertical.
- Seterbuka apapun suatu
masyarakatterhadap mobilitas social, terkadang tetap saja ada
hambatan-hambatan. Karena jika tanpa adanya hambatan maka tak aka nada
stratifikasi social yang menjadi cirri umum setiap masyarakat.
- Setiap
masyarakat pasti memiliki tipe mobilitas social verticalnya sendiri-sendiri,
tidak ada tipe yang berlaku umum bagi setiap masyarakat.
- Laju mobilitas social di sebabkan oleh
factor ekonomi, politik dan pekerjaan yang berbeda-beda.
- Mobilitas social yang disebabkan oleh
factor ekonomi, politik dan pekerjaan, tidak menunjukkan adanya kecenderungan
yang kontinu tentang bertambah atau berkurangnya laju mobilitas social.
v
Mobilitas
Social Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Yang Tertutup
Pada masyarakat yang menganut system
stratifikasi social yang tertutup, kemungkinan terjadinya mobilitas soaial
vertical sangatlah kecil. Hal ini terjadi karena masyarakat lebih mengutamakan
nilai-nilai tradiosional dan menolak adanya perubahan. Sehingga tidak terdapat
mobilotas social vertical dalam masyarakat.
Menurut
Soedjatmoko, mudah tidaknya seseorang melakukan mobilitas social vertical,
salah satunya ditentukan oleh kekakuan dan keluwesan struktur social dimana
orang itu hidup. Mereka yang memiliki bekal pendidikan yang tinggi dan hidup di
lingkungan masyarakat yang menghargai profesionalisme, besar kemungkinan akan
lebih mudah menembus batas-batas lapisan social dan naik ke kedudukan yang
lebih tinggi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Dan sebaliknya, setinggi
apapun tingkat pendidikan seseorang, tetapi bila ia hidup pada suatu lingkungan
masyarakat yang masih kuat nilai-nilaiprimordialisme dan system hubungan
koneksi, maka kecil kemungkinannya orang tersebut akan bisa lancer jenjang
karirnya dalam bekerja.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Mobilitas Sosial
Mobilitas
sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
1.
Perubahan Kondisi Sosial
Struktur kasta dan kelas dapat
berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat.
Misalnya, kemajuan teknologi
membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi
dapat menimbilkan stratifikasi
baru.
Ekspansi
teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas
struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota,
transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.
3.
Komunikasi yang Bebas
Situasi-situasi
yang membatasi komunikasi
antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata
yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan
mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas
sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada
dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.
4.
Pembagian Kerja
Besarnya
kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja
yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan,
maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu
strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan
khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar
dapat menempati status tersebut.
5.
Tingkat Fertilitas (Kelahiran) yang Berbeda
Kelompok
masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah cenderung
memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Pada pihak lain, masyarakat kelas
sosial yang lebih tinggi cenderung membatasi tingkat reproduksi dan angka
kelahiran. Pada saat itu, orang-orang dari tingkat ekonomi dan pendidikan yang
lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak bereproduksi dan memperbaiki
kualitas keturunan. Dalam situasi itu, mobilitas sosial dapat terjadi.
6.
Kemudahan dalam Akses Pendidikan
Jika
pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan
pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta
didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu,
menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk
mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.
E. Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
Secara umum, situasi pendorong
mobilitas social dapat di bedakan menjadi beberapa factor berikut:
1.
Faktor
Struktural
Faktor Struktural adalah jumlah
relative dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk
memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor structural adalah
sebagai berikut.
·
Struktur
Pekerjaan
Di setiap masyarakat terdapat beberapa
kedudukan tinggi dan rendah yang harus diisi oleh anggota masyarakat yang
bersangkutan. Biasanya ini terkait dengan kegiatan perekonomian masyarakat
tersebut. Misalnya, masyarakat atau negara yang kegiatan ekonominya berbasis
industry dengan teknologi canggih, kedudukan yang berstatus tinggi lebihbanyak
bila di bandingkan dengan yang kedudukannya rendahsehingga mereka yang
kedudukannya rendah, akan terpacu untuk menaikkan kedudukan social ekonominya.
·
Perbedaan
Fertilitas
Setiap masyarakat memiliki tingkat
fertilitas (kelahiran) yang berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan
erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi atau rendah.
Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap proses mobilitas social yang akan
berlangsung.
·
Ekonomi
Ganda
Suatu negara mungkin saja menerapkan
system ekonomi ganda (tradisional dan modern), contohnya di negara-negara Eropa
Barat dan Amerika. Hal itu tentu akan berdampak pada jumlah pekerjaan,baik yang
berstatus tinggi maupun yang rendah. Kesempatan mobilitas seseorang tergantung
padakeberhasilan dalam melakukan pekerjaan yang diminatinya, karena dalam
masyarakat modern, kenaikan status social sangat dipengaruhi oleh factor
prestasi yang diraih.
2.
Faktor
Individu
Faktor
individu adalah kualitas seseorang, baik ditinjau dari segi pendidikan,
penampilan, maupun keterampilan pribadi. Adapun yang termasuk dalam cakupan
faktor individu adalah sebagai berikut:
a) Perbedaan Kemampuan
Setiap
individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang cakap (memiliki
kemampuan yang lebih) mempunyai kesempatan dalam menfentukan mobilitas sosial
(keberhasilan hidup). Misalnya untuk bekerja di instansi-instansi terbaik
dibutuhkan sumber daya manusia lulusan dari perguruan tinggi ternama, baik
dalam maupun luar negeri.
b) Orientasi Sikap Terhadap Mobilitas
Banyak
cara yang dilakukan oleh para individu dalam meningkatkan prospek mobilitas
sosialnya, antara lain melalui pendidikan, kebiasaan kerja, penundaan
kesenangan, dan memperbaiki penampilan diri. Contonya, untuk menaikkan
posisinya, seorang karyawan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
dan rela mengikuti kursus-kursus yang dapat menunjangketerampilannya.
c) Faktor Kemujuran
Walaupun
seseorang telah berusaha keras dalam mencapai tujuannya, tetapi kendala
mengalami kegagalan. Hal ini diakibatkan karena adanya faktor yang banyak
disepelekan orang, yaitu kemujuran.
3.Status Sosial
Setiap
manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya, karena
ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya
sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang
tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri di lapisan sosial yang lebih
tinggi, tentu saja dengan melihat kemampuan dan jalan yang dapat ditempuh, dan
hal ini hanya mungkin terjadi dalam masyarakat yang memiliki struktur sosial
yang luwes.
4.
Keadaan Ekonomi
Keadaaan
ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang yang hidup
dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah tempat tinggal
yang tandus karena kehabisan sumber daya alam, kemudian mereka yang tidak mau
menerima keadaan ini berpindah tempat tinggal ke daerah lain (bermigrasi) atau
ke kota besar (berurbanisasi). Secara sosiologis mereka dikatakan mengalami
mobilitas.
5.
Situasi Politik
Situasi
politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas suatu masyarakat dalam sebuah
negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan memengaruhi situasi keamanan
yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman.
Atau bisa juga disebabkan oleh sistem politik pemerintah yang bertentangan
dengan hati nurani maupun paham yang dianut. Jadi, meskipun negaranya subur
(kaya akan sumber daya alam), namun kondisi politik yang tidak kondusif bisa
memengaruhi mobilitas masyarakat.
6.
Kependudukan (Demografi)
Faktor
kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalamarti geografik. Di satu pihak,
pertambahan jumlah penduduk yang pesat mengakibatkan sempitnya tempat pemukiman
dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela. Keadaan demikian
mendorong sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman yang lain.
Misalnya, kepadatan di Pulau Jawa mendorong para penduduk mengikuti program transmigrasi
ke luar Pulau Jawa.
7.
Keinginan Melihat Daerah Lain
Adanya
keinginan melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk melangsungkan
mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain, misalnya berekreasi
ke daerah-daerah tujuan wisata.
F. Faktor Penghambat Mobilitas Sosial
Selain faktor pendorong terdapat pula
faktor yang dapat menghambat terjadinya mobilitas sosial. Beberapa faktor
penghambat terjadinya mobilitas sosial antara lain sebagai berikut.
a. Kemiskinan
Faktor
ekonomi dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin, mencapai
status sosial tertentu merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
Misalnya, memutuskan tidak melanjutkan sekolah karena orang tua tidak mampu
membiayai.
b.
Diskriminasi Kelas
Sistem
kelas tertutup dapat menghalangi mobilitas ke atas, terbukti dengan adanya
pembatasan keanggotaan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan
ketentuan.
c. Perbedaan
Ras dan Agama
Dalam
sistem kelas tertutup tidak memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal ke atas.
Dalam agama tidak dibenarkan seseorang dengan sebebas-bebasnya dan sekendak
hatinya berpindah-pindah agama sesuai keinginannya.
d. Perbedaan
Jenis Kelamin (Gender)
Dalam
masyarakat, pria dipandang lebih tinggi derajatnya dan cenderung menjadi lebih
mobil daripada wanita. Perbedaan jenis kelamin berpengaruh dalam mencapaii
prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam masyarakat.
e. Faktor
Pengaruh Sosialisasi yang Sangat Kuat
Sosialisasi
yang sangat atau terlampau kuat dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses
mobilitas sosial. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.
Misalnya, suatu masyarakat yang terisolasi terhadap pengaruh luar, maka
masyarakat tersebut tertutup terhadap kemungkinan mobilitas.
f. Perbedaan
Kepentingan
Adanya
perbedaan kepentingan anatarindividu dalam suatu struktur organisasi
menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu.
Perbedaan kepentingan ini seringkali menimbulkan sikap saling menghambat dalam
mencapai tujuannya.
G. Cara
Khusus untuk Menaikkan Status Sosial
Secara
umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai
berikut :
- Perubahan standar hidup
Kenaikan
penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan
suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan
status.
Contoh:
Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan
kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status
sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah
standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana
seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.
- Perkawinan
Contoh:
Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan
laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini
dapat menaikan status si wanita tersebut.
- Perubahan tempat tinggal
Untuk
meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari
tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara
merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan
mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan
disebut sebagai orang kaya
oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
- Perubahan tingkah laku
Untuk
mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status
sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi
yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga
pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan
diri dengan kelas yang diinginkannya.
Contoh:
agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan
kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan
kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing.
- Perubahan nama
Dalam suatu masyarakat, sebuah nama
diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan
dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.
Contoh:
Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang
memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di
depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan
namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden"
- Bergabung Dengan Organisasi Tertentu
Untuk meningkatkan status sosialnya, seseorang bisa melibatkan diri
dengan salah satu organisasi tertentu, misalnya kelompok hoby yang berkelas.
H. Saluran-Saluran
Mobilitas Sosial
·
Angkatan bersenjata
Angkatan
bersenjata merupakan organisasi
yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan
yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, ia akan mendapatkan penghargaan dari
masyarakat. Dia mungkin dapat diberikan pangkat/kedudukan yang lebih tinggi, walaupun
berasal dari golongan masyarakat rendah.
- Lembaga-lembaga keagamaan
Lembaga-lembaga
keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang, misalnya yang berjasa dalam
perkembangan Agama seperti ustad, pendeta,
biksu
dan lain lain.
- Lembaga pendidikan
Lembaga-lembaga
pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal
ke atas, bahkan dianggap sebagai social
elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke
kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang
untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Contoh:
Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah
sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan
menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi
pedagang yang kaya, yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya.
- Organisasi politik
Seperti
angkatan bersenjata, organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan
berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga status
sosialnya meningkat.
- Organisasi ekonomi
Organisasi
ekonomi
(seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapat meningkatkan tingkat
pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka semakin besar jabatannya.
Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. Karena
pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Dan karena kekayaannya
bertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat meningkat.
- Organisasi keahlian
Orang
yang rajin menulis dan menyumbangkan pengetahuan/ keahliannya kepada kelompok
pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada pengguna biasa.
- Perkawinan
Sebuah
perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikah dengan orang
yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya.
I. Dampak Mobilitas Social
Setiap
mobilitas social akan menimbulkan
peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebaliknya akan menimbulkan
konflik. Menurut Horton dan Hurt (1987), ada beberapa konsekuensi negative dari
adanya mobilitas social vertical, antara lain sebagai berikut.
1. Adanya kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi
mobilitas menurun.
2. Timbulnya ketegangan dalam memplajari peran baru dari
status jabatan yg meningkat
3. Keretakan hubungan antar anggota kelompok premier , yg
semula kerena seseorang berpindah ke status yg labih tinggi atau ke status yg
lebih rendah.
Pada masyarakat terbuka (demokrasi), mobilitas mungkin
banyak menguntungkan karena ada kesempatan bagi seseorang untuk mencapai
jenjang status yang lebih tinggi.sedangkan pada masyarakat yang tertutup
(system kasta) kemungkinan untuk naik ke status yang lebih tinggi tidak bisa
(bahkan tidak ada) sehingga kebahagiaan ataupun kekecewaan tidak begitu
dirasakan, sebab seseorang yang telah di lahirkan telah di tentukan statusnya.
Adapun dampak social bagi
masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negative antara lain sebagai berikut:
v Dampak
negatif
Gejala
naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu
terhadap struktur sosial masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian
mendatangkan berbagai reaksi. Reaksi ini dapat berbentuk konflik.
Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat
terjadinya mobilitas.
- Konflik Antarkelas
Dalam
masyarakat,
terdapat lapisan-lapisan
sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan,
kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial.
Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di
masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas. Contoh:
demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara
kelas buruh dengan pengusaha.
- Konflik Antarkelompok Sosial
Di
dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di
antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi,
agama,
suku,
dan ras.
Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi
pemaksaan, maka timbul konflik. Konflik yang menyangkut antar kelompok yang
satu dengan kelompok yang lainnya karena benturan nilai dan kepentingan.
Konflik ini dapat berupa:
§ Konflik
antara kelompok social yang masih tradisional dengan kelompok social modern.
Misalnya para kusir delman dan penarik becak yang lambat menyesuaikan diri
dengan perubahan dapat menyebabkan konflik dengan para sopir mobil angkutan
umum.
§ Proses
suatu kelompok social tertentu terhadap kelompok social lain yang memiliki
wewenang. Misalnya, demonstrasi mahasiswa yang menuntut kepada anggota dewan
untuk memberantas KKN
- Konflik Antargenerasi
Konflik yang terjadi kerana adanya
benturan nilai dan kepentingan antara generasi yang satu dengan genesari yang
lain. Yang terjadi antara generasi tua
yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan
perubahan.
Contoh:
Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat
bertentangan dengan nilai-nilai
yang dianut generasi tua.
- Berkurangnya
Solidaritas Sosial
Penyesuaian diri dengan nilai-nilai
dan norma-norma yang ada dalam kelas social yang baru merupakan langkah yang
diambil oleh seseorang yang mengalami mobilitas, baik vertical maupun
horizontal. Hal ini di lakukan agar mereka bisa diterima dalam kelas sosila
yang baru dan mampu menjalankan fungsi-fungsinya. Keadaan inilah yang
menyebabkan orang-orang yang pindah ke lapisan yang baru akan berkurang
solidaritasnya terhadap kelas social yang lama. Sebagai contoh, orang yang kaya
mendadak akan berusaha menyasuaikan diri dengan lapisan atas dalam gaya
hidupnya agar bisa diterima dan dianggap sebagai bagian dari kelas social yang
baru sehingga menjadi berkurang rasa kesetiakawanannya terhadap kelompok social
asalnya.
- Timbulnya
gangguan psikologis
Mobilitas social dapat pula
mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, antara lain sebagai berikut;
o
Menimbulkan
ketakutan dan kegelisahan pada seseorang yang mengalami mobilitas menurun.
o
Adanya
gangguan psikologis bila seseorang turun dari jabatannya (post power syndrome)
o
Mengalami
frustasi atau putus asa dan malu bagi orang-orang yang ingin naik ke lapisan
atas, tetapi tidak dapat mencapainya
v Dampak
positif
- Mendorong
Seseorang Untuk Lebih Maju
Orang-orang akan berusaha untuk
berprestasi atau
berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan
ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke
strata atas.
Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar
dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.
·
Mempercepat Tingkat
Perubahan Sosial Masyarakat ke Arah yang Lebih Baik
Dengan mobilitas, masyarakat akan lebih mempercepat
tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik
menuju pencapaian tujuan yang di inginkan.
Contoh:
Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris
ke masyarakat industri.
Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang
memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.
·
Meningkatkan Integrasi
Sosial
Terjadinya mobilitas social dalam suatu
masyarakat dapat meningkatkan integrasi social.
Misalnya,
seseorang yang melakukan mobilitas social vertical, ia akan menyesuaikan diri
dengan gaya hidup, nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh kelompok orang
dengan status social yang baru sehinggatercipta integritas social.
No comments:
Post a Comment